BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lima besar
kanker di dunia adalah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus besar dan
kanker lambung dan kanker hati. Sementara data dari pemeriksaan patologi
di Indonesia menyatakan bahwa urutan lima besar kanker
adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kelenjar getah bening, kulit dan
kanker nasofaring. Kanker payudara merupakan kanker terbanyak diderita wanita.
Angka kematian akibat kanker payudara mencapai 5 juta pada wanita. Kanker
payudara merupakan penyebab kematian karena kanker tertinggi pada wanita yaitu
sekitar 19%. Lima data terakhir menunjukkan bahwa kematian akibat
kanker payudara pada wanita menunjukkan angka ke-2 tertinggi
Tujuan dalam pembangunan kesehatan adalah tercapainya hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat terwujudnya kesehatan yang optimal.
Perawatan merupakan salah satu komponen dari pembangunan di bidang
kesehatan, sehingga secara tidak langsung merupakan bagian dari system
kesehatan nasional dan banyak berperan dalam usaha meningkatkan derajat
kesehatan. Sebab keperawatan merupakan bagian intergral yang tidak dapat di
pisahkan dari pelayanan kesehatan secara umum, dalam memberi asuhan keperawatan
yang mempunyai masalah kesehatan.
Kanker payudara adalah yang paling sering diteliti dalam studi tentang
kualitas hidup, studi psikososial terdahulu menekankan bahwa adaptasi terhadap
kehilangan payudara merupakan satu-satunya factor penting bagi seorang wanita,
trutama budaya barat. Karenanya , tidaklah mengejutkan bahwa perhatian
penelitian tentang penyesuian diri seorang wanita terhadap kanker payudara
menemukan hasil yang serupa
Meskipun demikian riset yang terus tumbuh menunjukan bahwa perhatian yang
berkaitan dengan ketidakpastian tentang masa depan seseorang, Isu-isu
keseharian yang terjadi ditempat kerja dan hubungan keluarga, serta tuntutan
penyakit merupakan faktor-faktor yang lebih penting dalam menyesuaikan diri
akibat mengalami kanker, dibanding kehilangan payudara itu sendiri.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk dapat melaksanakan perawatan pada pasien dengan
kanker payudara ( Pre dan Post operasi ) dengan pendekatan proses
keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Agar perawat
mengetahui dan mengerti tentang perawatan pada kasus Pre dan Post Operasi
kanker payudara
b. Sebagai persyaratan
masa orientasi 6 bulan perawat baru di RS. Mardi Rahayu Kudus.
C. Metode Pengumpulan
Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah :
1. Wawancara
Wawancara dilakukan melalui proses Tanya jawab dengan pasien, keluarga,
perawat serta pihak yang mendukung dan memberikan informasi yang berkaitan
dengan pasien.
2. Observasi
Dengan melakukan pengamatan langsung serta ikut aktif dalam kegiatan
pelayanan keperawatan pasien diruangan sehingga dapat mengetahui perubahan dan
perkembangan keadaan pasien.
3. Study Dokumentasi
Penulis menggunakan dan mengumpulkan data dari status pasien dan catatan
tindakan keperawatan serta pengobatan yang dilakukan selama pasien dirawat.
4. Study Literatur
Menggali informasi dari buku – buku, diktat, makalah dan media internet
yang behubungan dengan pembuatan laporan ini.
D. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan studi kasus ini, penulis akan menguraikan sistematika
penyusunan mulai dari pendahuluan sampai penutup. Dimana Bab I dengan yang
lainya saling berhubugan.
BAB I : PENDAHULUAN
Yang meliputi latar belakang, Tujuan penulisan,
metode pengumpulan data, dan sistematika penulisa.
BAB II: TINJAUAN TEORI
Yang meliputi pengertian, etiologi, manifestasi
klinis, klasifikasi, penatalaksanaan, dan pemeriksaan penunjang.
BAB III : TINJAUAN KASUS
Yang meliputi pengkajian, analisa data, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
BAB IV : PENUTUP
Yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
BAB.II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Kanker adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan
pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya
penyakit tunggal. Penyakit selular ini dapat timbul dari jaringan tubuh
mana saja, dengan manifestasi yang mengakibatkan kegagalan untuk
mengontrol proliferasi dan maturasi sel. Kanker payudara adalah tumor ganas
yang tumbuh di dalam jaringan payudara.
(Anonymous.2007.KankerPayudara.http://www.blogdoter.net/2007/03/13/kanker-payudara/.).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh dan berubah menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
benjolan di payudara. (Harnawati AJ.2008. Askep Kanker
Payudara.http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askep-kanker-payudara/.29
Desember 2008.).
Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan
lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Jika benjolan kanker itu tidak
dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada
bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening
(limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa
bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Anonymous. 2007.
Kanker Payudara/. 12 Januari 2009. dan Harnawati AJ. 2008. Askep Kanker
Payudara.http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/ askep - kanker-payudara/.
29 Desember 2008.).
Mastektomi adalah pengangkatan payudara. Mastektomi radikal adalah
mengangkat seluruh payudara, beberapa atau semua nodus limfe.
B. Etiologi
Tak ada satupun penyebab spesifik dari kanker payudara; sebaliknya
serangkaian faktor genetik, hormonal, dan kemungkinan kejadian lingkungan dapat
menunjang terjadinya kanker ini. Bukti yang terus bermunculan menunjukan bahwa
perubahan genetic berkaitan dengan kanker payudara, namun apa yang menyebabkan
perubahan genetic masih belum diketahui.perubahan genetic ini termaksud
perubahan atau mutasi dalam gen normal, dan pengaruh protein baik yang menekan
atau meningkatkan perkembangan kanker payudara. Hormone steroid yang dihasilkan
oleh ovarium mempunyai peran penting dalam kanker. Dua hormone utama-estradiol
dan progesterone-mengalami perubahan dalam lingkungan selular, yang dapat
mempengaruhi factor pertumbuhan bagi kanker payudara.
C. Manifestasi klinik
Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari
jaringan payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki
pinggiran yang tidak teratur. Pada stadium awal, jika didorong oleh jari
tangan, benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah kulit. Pada stadium
lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau kulit di sekitarnya.
Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok
di kulit payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan tampak seperti
kulit jeruk.
Pasien biasanya datang dengan keluhan benjolan / massa di payudara, ada
rasa sakit dapat juga tanpa rasa sakit, keluar cairan yang abnormal dari puting
susu (biasanya berdarah atau berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga
bernanah), timbul kelainan kulit berupa perubahan warna atau tekstur kulit
(dimpling, kemerahan, ulserasi, peau d'orange) pada payudara, puting susu
maupun areola (daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu) dan luka
yang tidak sembuh dalam waktu yang lama.Gejala lainnya yang mungkin ditemukan
adalah benjolan atau massa di ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara,
kulit di sekitar puting susu bersisik atau ada lekukan pada kulit, puting susu
tertarik ke dalam (retraksi puting susu) atau terasa gatal atau pembengkakan
salah satu payudara. Konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan
tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium
ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara.Pembesaran kelenjar
getah bening atau tanda metastasis jauh. Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri
tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi kulit. Setiap
kelainan pada payudara harus dipikirkan ganas sebelum kita buktikan tidak
ganas.
D. Pemeriksaan penunjang
1.
Mamografi: memperlihatkan struktur
internal payudara, dapat mendeteksi kanker yang tak teraba atau tomur yang
terjadi pada tahap awal.
2.
Galaktografi: mamogram dengan
kontras dilakukan dengan menginjeksikan zat kontras kedalam aliran duktus.
3.
Ultrasound: dapat membantu dalam membedakan antara massa
padat dan kista dan pada wanita yang jaringan payudaranya keras;hasil
komplement dari mamografi.
4.
Xeroradiografi: menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi
tumor.
5.
Termografi: mengidentifikasikan pertubuhan cepat tumor sebagai
“titik panas” karena peningkatan suplai darah dan penyesuaian suhu kulit yang
lebih tinggi.
6.
Diafanografi
(transimulasi): mengidentifikasi tumor atau
massa dengan membedakan bahwa jaringan mentransmisikan dan menyebarkan sinar.
Prosedur masih diteliti dan dipertimbangkan kurang akurat daripada mamografi.
7.
CT-scan dan MRI: teknik scan yang dapat mendeteksi penyakit
payudara, khususnya massa yang lebih besar, atau tumor kecil, payudara mengeras
yang sulit diperiksa dengan mamografi. Teknik ini tidak bisa untuk pemeriksaan
rutin dan tidak untuk mamografi.
8.
Biopsi
payudara(jarum atau eksisi): memberikan
diagnosa definitive terhadap massa dan berguna untuk klasifikasi histology
pentahapan, dan seleksi terapi yang tepat
9.
Asai hormon
reseptor: menyatakan apakah sel tumor atau spesimen biopsi
mengandung reseptor hormon (estrogen dan progesteron). Pada sel malignan,
reseptor kompleks estrogen-plus merangsang pertumbuhan dan pembagian sel.Kurang lebih dua pertiga semua wanita dengan kanker payudara reseptor
estrogennya positif dan cenderung berespon baik terhadap terapi hormon
menyertai terapi primer untuk memperluas periode bebas penyakit dan kehidupan.
10.
Foto dada, pemeriksaan fungsi hati,
hitung sel darah, dan scan tulang:dilakukan untuk mengkaji adanya
metastase.
E. Faktor – faktor resiko
kanker payudara
Meskipun belum ada penyebab spesifik kanker payudara yang diketahui, para
peneliti telah mengidentifikasi sekelompok faktor resiko. Faktor ini penting
dalam membantu mengembangkan program-program pencegahan. Hal yang harus selalu
di ingat adalah bahwa hampir 60 % wanita yang didiagnosa kanker payudara tidak
mempunyai faktor-faktor resiko yang teridentifikasi kecuali hanya lingkungan
hormonal mereka. Dengan demikian, semua wanita dianggap beresiko untuk
mengalami kanker payudara selama masa kehidupan mereka. Namun demikian,
mengidentifikasi faktor resiko merupakan cara untuk mengidentifikasi wanita
yang mungkin diuntungkan dari kelangsungan hidup yang terus meningkat dan
pengobatan dini. Selain itu, riset lebih jauh tentang faktor-faktor resiko akan
membantu dalam mengembangkan strategi yang efektif untuk mencegah atau
memodifikasi kanker payudara dimasa mendatang.
Faktor-faktor yang mencakup :
1.
Riwayat pribadi tentang kanker payudara.
Resiko mengalami kanker payudara pada payudara sebelahnya meningkat hamper 1%
setiap tahun.
2.
Anak permpuan atau saudara perempuan
(hubungan keluarga langsung) dari wanita dengan kanker payudara. Resikonya
meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun; resiko
4 sampai 6 kali jika kanker payudara terjadi pada dua orang saudara langsung.
3.
Menarke dini. Resiko kanker payudara
meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun.
4.
Nulipara dan usia
maternal lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang mempunyai anak pertama
setelah usia 30 tahun mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker
payudara dibanding dengan wanita yang mempunyai anak pertama mereka pada usia
sebelum 20 tahun.
5.
Menopause pada usia lanjut. Menopause
setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara.
Dalam perbandingan, wanita yang telah menjalani ooforektomi bilateral sebelum
usia 30 tahun mempunyai resiko sepergtiganya.
6.
Riwayat penyakit tumor payudara jinak.
Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel poliferasi
mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara; wanita dengan
hiperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit
ini.
7.
Pemajanan terhadap radiasi ionisasi
setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun beresiko hamper dua kali lipat.
8.
Obesitas- resiko terendah diantara
wanita pasca menopause. Bagaimanapun, wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini
mempunyai angka kematian lebih tinggi, yang paling sering berhubungan dengan
diagnosis yang lambat.
9.
Kontraseptif oral. Wanita yang
menggunakan kontraseptif oral berisiko tinggi untuk mengalami kanker payudara.
Bagaimanapun, risiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian
medikasi.
10.
Terapi penggantian hormon. Terdapat
laporan yang membingungkan tentang resiko kanker payudara pada terapi
penggantian hormon. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan estrogen
suplemen dan menggunakannya untuk jangka panjang (lebih dari 10 sampai 15 tahun)
dapat mengalami peningkatan risiko. Sementara penambahan progesteron terhadap
penggantian estrogen meningkat insidens kanker endomentrium, hal ini tidak
menurunkan resiko kanker payudara.
11.
Masukan alkohol. Sedikit peningkatan
risiko ditemukan pada wanita yang mengkonsumsi alkohol bahkan dengan hanya
sekali minum dalam sehari. Risikonya dua kali lipat di antara wanita yang minum
alkohol tiga kali sehari. Di Negara dimana minuman anggur dikonsumsi secara
teratur (mis Perancis dan Itali), angkanya sedikit lebih tinggi.
Beberapa temuan riset menunjukan bahwa wanita muda yang minum alkohol lebih
rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun terakhirnya.
Diet tinggi lemak dahulu pernah diduga meningkatkan risiko kanker payudara.
Kajian epidemiologi pada wanita berkebangsaan Amerika dan Jepang menunjukan
perbedaaan lima kali lipat dalam angka kanker payudara antara dua
kelompok, dengan wanita Amerika yang mempunyai insidens yang lebih tinggi.
Wanita Jepang yang bermigrasi ke Amerika Serikat juga menunjukan angka kanker
payudara yang serupa dengan wanita-wanita Amerika lainnya. Studi kelompok
terbaru menunjukan hubungan yang lemah atau tidak menyeluruh antara diet tinggi
lemak dan kanker payudara. Namun, karena lemak mempunyai dampak dalam kanker
kolon dan penyakit jantung, pasien wanita diuntungkan dari upaya penyuluhan
yang difokuskan pada pengurangan masukan kalori yang berasal dari lemak secara
keseluruhan.
Implan payudara dengan silikon akhir-akhir ini telah dikaitkan dengan
kontraksi kapsular fibrosis dang gangguan imun tertentu. Namun, tidak ada bukti
yang menunjukan bahwa implant payudara berkaitan dengan peningkatan resiko
kanker payudara.
F. Pentahapan Kanker
Payudara
Pentahapan mencangkup mengklasifikasikan kanker payudara berdasarkan pada
keluasan penyakit. Pentahapan segala bentuk kanker sangat penting karena hal
ini dapat membantu tim perawatan kesehatan merekomendasikan pengobatan terbaik
yang ada, memberikan prognosis, dan membandingkan hasil dari program pengobatan
alternatif. Beberapa pemeriksaan darah, dan prosedur diagnostik dilakukan dalam
petahapan penyakit. Pemeriksaaan dan prosedur ini mencankup rontgen dada, pemindaian
tulang, dan fungsi hepar. Pentahapan klinik yang paling banyak digunakan untuk
kanker payudara adalah sistem klasifikasi TNM yang mengevaluasi ukuran tumor,
jumlah nodus limfe yang terkena, dan bukti adanya metastasis yang jauh.
Tumor primer (T) :
1.
Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan
2.
T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer
3.
Tis : Kanker in situ, paget dis pada
papila tanpa teraba tumor
4.
T1 :Tumor <>
a. T1a : Tumor <>
b. T1b :Tumor 0,5 – 1 cm
c. T1c :Tumor 1 – 2 cm
5.
T2 :Tumor 2 – 5 cm
6.
T3 : Tumor diatas 5 cm
7.
T4 : Tumor tanpa memandang ukuran,
penyebaran langsung ke dinding thorax atau kulit :
a. T4a : Melekat pada
dinding dada
b. T4b : Edema kulit, ulkus, peau d’orange
c. T4c : T4a dan T4b
d. T4d : Mastitis karsinomatosis
Nodus limfe regional (N) :
1. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat
ditentukan
2. N0 : Tidak teraba kelenjar axila
3. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang
tidak melekat
4. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang
melekat satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya
5. N3 : Terdapat kelenjar
mamaria interna homolateral
Metastas jauh (M) :
1.
Mx : Metastase jauh
tidak dapat ditentukan
2.
M0 : Tidak ada metastase jauh
3.
M1 : Terdapat
metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula
Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:
1.
Stadium I : Tumor
yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran
jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan otot
pektoralis.
2.
Stadium IIa : Tumor yang berdiameter
kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau
tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh.
3.
Stadium IIb : Tumor yang berdiameter
kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh atau
tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh.
4.
Stadium IIIa : Tumor yang berdiameter
lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa penyebaran jauh.
5.
Stadium IIIb : Tumor yang berdiameter
lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan terdapat penyebaran jauh
berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan limfonodus (LN)
supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi /
menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.
6.
Stadium IV : Tumor yang mengalami
metastasis jauh.
Status penampilan (performance status) kanker menurut WHO (1979) :
1.
0 : Baik, dapat bekerja normal.
2.
1 : Cukup, tidak
dapat bekerja berat namun bekerja ringan bisa.
3.
2 : Lemah, tidak
dapat bekerja namun dapat berjalan dan merawat diri sendiri 50% dari waktu
sadar.
4.
3 : Jelek, tidak
dapat berjalan, dapat bangun dan merawat diri sendiri, perlu tiduran lebih 50%
dari waktu sadar.
5.
4 : Jelek sekali,
tidak dapat bangun dan tidak dapat merawat diri sendiri, hanya tiduran saja.
Status penampilan (performance status) kanker menurut Karnofsky :
1.
100% : Mampu
melaksanakan aktivitas normal, keluhan / kelainan tidak ada.
2.
90% : Tidak perlu
perawatan khusus, keluhan gejala minimal.
3.
80% : Tidak perlu
perawatan khusus dengan beberapa keluhan / gejala.
4.
70% : Tidak mampu
bekerja namun mampu merawat diri.
5.
60% : Kadang perlu
bantuan tetapi umumnya dapat melakukan untuk keperluan sendiri.
6.
50% : Perlu bantuan
dan umumnya perlu obat-obatan.
7.
40% : Tidak mampu
merawat diri, perlu bantuan dan perawatan khusus.
8.
30% : Perlu pertimbangan perawatan rumah
sakit.
9.
20% : Sakit berat, perlu perawatan rumah
sakit.
10.
10% : Mendekati kematian.
11.
0% : Meninggal. "Rest in peace
& no pain".
Ukuran tumor terbanyak ditemukan lebih 2 cm (95,24%). Stadium kanker
payudara terbanyak ditemukan adalah stadium IIIb (35,71%). Sebagian besar
kelenjar limfe aksila positif (47,63%). Gambaran histopatologis duktal (90,48%)
dan derajat diferensiasi buruk (40,48%). Karnofsky kurang 60%, tidak layak
diberikan sitostatika.
Tipe Kanker Payudara
Selain kriteria pentahapan gambaran patologi lainnya dan tes prognostik
digunakan untuk mengindentifikasi kelompok pasien yang berbeda yang mungkin
diuntungkan oleh pengobatan ajufan. Pemeriksaan histologis sel-sel kanker
membantu menentukan prognosis dan mengarah pada pemahaman yang lebih baik
tentang bagaimana penyakit berkembang.
Karsinoma duktal menginfiltrasi adalah
tipe histologis yang paling umum, merupakan 75% dari semua jenis kanker
payudara. Kanker ini sangat jelas karena keras saat dipalpasi. Kanker jenis ini
biasanya bermetatasis ke nodus aksila. Prognosisnya lebih buruk dibanding
dengan tipe kanker lainnya.
Karsinoma labular menginfiltrasi jarang terjadi, merupakan 5% sampai 10% kanker
payudara. Tumor ini biasanya terjadi pada suatu area penebalan yang tidak baik
pada payudara bila dibandingkan dengan tipe duktal menginfiltrasi. Tipe ini
lebih umum multisentris, dengan demikian, dapat terjadi penebalan beberapa area
pada salah satu atau kedua payudara. Karsinoma duktal menginfiltrasi dan
lobular menginfiltrasi mempunyai keterlibatan nodus aksilar yang serupa,
meskipun tempat metastasisnya berbeda. Karsinoma duktal biasanya menyebar ke
tulang, paru, hepar atau otak, sementara karsinoma lobular biasanya
bermetastasis ke permukaan meningeal atau tempat-tempat tidak lazim lainnya.
Karsinoma medular menenpati sekitar 6% dari kanker
payudara dan tumbuh dalm kapsul di dalam duktus. Tipe tumor ini dapat menjadi
besar tetapi meluas dengan lambat, sehingga prognosisnya sering kali lebih
baik.
Kanker mesinus menenpati
sekitar 3% dari kanker payudara. Penghasil lender, juga tumbuh dengan lambat;
sehingga, kanker ini mempunyai prognosis yang lebih baik dari lainnya.
Kanker duktal-tubular jarang terjadi, menempati hanya sekitar 2% dari kanker. Karena metastasis
aksilaris secara histologi tidak lazim, maka progrosisnya sangat baik.
Karsinoma inflamatori adalah tipe kanker payudara yang jarang (1% sampai 2%) dan menimbulkan
gejala-gejala yang berbeda dari kanker payudara lainnya. Tumor setempat ini
nyeri tekan dan sangat nyeri; payudara secata abnormal keras dan membesar.
Kulit diatas tumor ini merah dan agak hitam. Sering terjadi edema dan retraksi
puting susu. Gejala-gejala ini dengan cepat berkembang memburuk dan biasanya
mendorong pasien mencari bantuan medis lebih cepat di banding pasien wanita
lainnya dengan masa kecil pada payudara. Penyakit dapat menyebar dengan cepat
pada bagian tubuh lainnya; preperta kemoterapi berperan penting dalam
pengendalian kemajuan penyakit ini. Radiasi dan pembedahan biasanya juga
digunakan unttuk mengontrol penyebaran.
G. Penatalaksanaan
Pilihan pada pengobatan kanker payudara tergantug pada
tipe, ukuran, dan lokasi pada tumor, juga karakteristik klinis (derajat).terapi
dapat termasuk intervensi bedah dengan/tanpa radiasi, kemoterapi, dan terapi
hormone.Penggunaan transplantasi sumsum tulang masih dalam penelitian.
Tipe pembedahan secara umum dikelompokan ke dalam tiga kategori:
mastektomi radikal, mastektomi total, dan prosedur yang lebih terbatas (contoh
segmental,lumpektomi).
Mastektomi total (sederhana) mengangkat, semua jaringan payudara, tetapi
semua atau kebayakan nodus limfe dan otot dada tetap utuh.
Mastektomi radikal modifikasi mengangkat seluruh payudara, beberapa atau
semua nodus limfe, dan kadang-kadang otot pektoralis minor. Otot dada mayor
masih utuh. Mastektomi radikal (Halsted) adalah prosedur yang jarang dilakukan
yaitu pengangkatan seluruh payudara, kulit, otot pektoralis mayor dan minor,
nodus limfe ketiak, dan kadang-kadang nodus limfe mamae internal atau
supraklavikular.
Prosedur membatasi (contoh lumpektomi) mungkin dilakukan pada pasien rawat
jalan yang hanya berupa tumor dan beberapa jaringan disekitarnya diangkat.
Lumpektomi dianggap tumor non-metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya yang
tidak melibatkan putting. Prosedur meliputi diagnostik (menentukan tipe sel)
dan/atau pengobatan bila dikombinasikan dengan terapi radiasi.
H. Patofisiologi
Kanker payudara bukan
satu-satunya penyakit tapi banyak, tergantung pada jaringan payudara yang
terkena, ketergantungan estrogennya, dan usia permulaannya. Penyakit payudara
ganas sebelum menopause berbeda dari penyakit payudara ganas sesudah masa
menopause (postmenopause). Respon dan prognosis penanganannya berbeda dengan
berbagai penyakit berbahaya lainnya.Beberapa tumor yang dikenal sebagai
“estrogen dependent” mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe
estrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak
manual pada jaringan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia.
Kehadiran tumor “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada jaringan lebih tinggi dari
kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon
terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau
adrenalectomy)
0 komentar:
Post a Comment