Sunday, 17 May 2015


ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN DIAGNOSA LEUKIMIA LIMFOSITIK AKUT

A. PENGKAJIAN
1.      Biodata
Leukemia Limfositik Akut (LLA) paling sering menyerang anak-anak di bawah umur 15 tahun, dengan puncak insiden antara 3-4 tahun. Penderita kebanyakan laki-laki dengan rasio 5:4 jika dibandingkan dengan perempuan.

2.      Riwayat Keperawatan
a.       Keluhan Utama
Nyeri tulang sering terjadi, lemah nafsu makan menurun, demam (jika disertai infeksi) bisa juga disertai dengan sakit kepala.
b.      Riwayat Perawatan Sebelumnya
Riwayat kelahiran anak :
1)      Prenatal
2)      Natal
3)      Post natal
Riwayat Tumbuh Kembang
Bagaimana pemberian ASI, adakah ketidaknormalan pada masa pertumbuhan dan kelainan lain ataupun sering sakit-sakitan.
c.       Riwayat keluarga
Insiden LLA lebih tinggi berasal dari saudara kandung anak-anak yang terserang terlebih pada kembar monozigot (identik).

3.      Kebutuhan Dasar
a.       Cairan : Terjadi deficit cairan dan elektrolit karena muntah dan diare.
b.      Makanan : Biasanya terjadi mual, muntah, anorexia ataupun alergi makanan. Berat badan menurun.
c.       Pola tidur : Mengalami gangguan karena nyeri sendi.
d.      Aktivitas : Mengalami intoleransi aktivitas karena kelemahan tubuh.
e.       Eliminasi : Pada umumnya diare, dan nyeri tekan perianal.


4.      Pemeriksaan Fisik
a.       Keadaan Umum tampak lemah
Kesadaran compos mentis, selama belum terjadi komplikasi.
b.      Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : dbn
Nadi : takikardi
Suhu : meningkat jika terjadi infeksi
RR : Dispneu, takhipneu
c.       Pemeriksaan Kepala Leher
Rongga mulut : apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri), perdarahan gusi
Konjungtiva : anemis atau tidak. Terjadi gangguan penglihatan akibat infiltrasi ke SSP.
d.      Pemeriksaan Integumen
Adakah ulserasi ptechie, ekimosis, tekanan turgor menurun jika terjadi dehidrasi.
e.       Pemeriksaan Dada dan Thorax
1)        Inspeksi bentuk thorax, adanya retraksi intercostae.
2)        Auskultasi suara nafas, adakah ronchi (terjadi penumpukan secret akibat infeksi di paru), bunyi jantung I, II, dan III jika ada
3)        Palpasi denyut apex (Ictus Cordis)
4)        Perkusi untuk menentukan batas jantung dan batas paru.
f.       Pemeriksaan Abdomen
1)        Inspeksi bentuk abdomen apakah terjadi pembesaran, terdapat bayangan vena, auskultasi peristaltic usus, palpasi nyeri tekan bila ada pembesaran hepar dan limpa.
2)        Perkusi tanda asites bila ada.
g.      Pemeriksaan Ekstremitas
Adakah cyanosis kekuatan otot.

5.      Informasi Lain
a.       Perangkat Diagnostik
1)      Temuan laboratorium berupa perubahan hitung sel darah spesifik.
2)      Pemeriksaan sumsum tulang memperlihatkan proliferasi klonal dan penimbunan sel darah.
b.      Penatalaksanaan
1)      Kemoterapi dengan banyak obat
2)      Antibiotik untuk mencegah infeksi
3)      Tranfusi untuk mengatasi anemia

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan :
a.       Tidak adekuatnya pertahanan sekunder
b.      Gangguan kematangan sel darah putih
c.       Peningkatan jumlah limfosit imatur
d.      Imunosupresi
e.       Penekanan sumsum tulang (efek kemoterapi)
Hasil yang Diharapkan :
Infeksi tidak terjadi
Rencana tindakan :
a.       Tempatkan anak pada ruang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi
Rasional ; Melindungi anak dari sumber potensial patogen / infeksi
b.      Berikan protocol untuk mencuci tangan yang baik untuk semua staf petugas
Rasional : mencegah kontaminasi silang / menurunkan risiko infeksi
c.       Awasi suhu. Perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan chemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan tachicardi, hiertensi
Rasional : Hipertermi lanjut terjadi pada beberapa tipe infeksi dan demam terjadi pada kebanyakan pasien leukaemia.
d.      Dorong sering mengubah posisi, napas dalam, batuk.
Rasional : Mencegah statis secret pernapasan, menurunkan resiko atelektasisi/ pneumonia.
e.       Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut secara periodic. Gnakan sikat gigi halus untuk perawatan mulut.
Rasional : Rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme patogen
f.       Awasi pemeriksaan laboratorium : WBC, darah lengkap
Rasional : Penurunan jumlah WBC normal / matur dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapo.
g.      Berikan obat sesuai indikasi, misalnya Antibiotik
Rasional : Dapat diberikan secara profilaksis atau mengobati infeksi secara khusus.
h.      Hindari antipiretik yang mengandung aspirin
Rasional : aspirin dapat menyebabkan perdarahan lambung atau penurunan jumlah trombosit lanjut

2.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan :
a.       Kehilangan berlebihan, mis ; muntah, perdarahan
b.      Penurunan pemasukan cairan : mual, anoreksia.
Hasil Yang Diharapkan :
Volume cairan tubuh adekuat, ditandai dengan TTV dbn, stabil, nadi teraba, haluaran urine, BJ dan PH urine, dbn.
Rencana Tindakan :
a.       Awasi masukan dan pengeluaran. Hitung pengeluaran tak kasat mata dan keseimbangan cairan. Perhatikan penurunan urine pada pemasukan adekuat. Ukur berat jenis urine dan pH Urine.
Rasional : Penurunan sirkulasi sekunder terhadap sel darah merah dan pencetusnya pada tubulus ginjal dan / atau terjadinya batu ginjal (sehubungan dengan peningkatan kadar asam urat) dapat menimbulkan retensi urine atau gagal ginjal.
b.      Timbang BB tiap hari.
Rasional : Mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai fungsi ginjal. Pemasukan lebih dari keluaran dapat mengindikasikan memperburuk / obstruksi ginjal.
c.       Awasi TD dan frekuensi jantung
Rasional : Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemik (perdarahan/dehidrasi)
d.      Inspeksi kulit / membran mukosa untuk petike, area ekimotik, perhatikan perdarahan gusi, darah warn karat atau samar pada feces atau urine; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invesif.
Rasional : Supresi sumsum dan produksi trombosit menempatkan pasien pada resiko perdarahan spntan tak terkontrol.
e.       Evaluasi turgor kulit, pengiisian kapiler dan kondisi umum membran mukosa.
Rasional : Indikator langsung status cairan / dehidrasi.
f.       Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan / perdarahan, ex : sikat gigi atau gusi dengan sikat yang halus.
Rasional : Jaringan rapuh dan gangguan mekanis pembekuan meningkatkan resiko perdarahan meskipun trauma minor.
g.      Berikan diet halus.
Rasional : Dapat membantu menurunkan iritasi gusi.
h.      Berikan cairan IV sesuai indikasi
Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan / elektrolit pada tak adanya pemasukan melalui oral; menurunkan risiko komplikasi ginjal.
i.        Berikan sel darah Merah, trombosit atau factor pembekuan
Rasional : Memperbaiki jumlah sel darah merah dan kapasitas O2 untuk memperbaiki anemia. Berguna mencegah / mengobati perdarahan.

3.      Nyeri ( akut ) berhubungan dengan :
a.       Agen fiscal ; pembesaran organ / nodus limfe, sumsum tulang yang dikmas dengan sel leukaemia.
b.      Agen kimia ; pengobatan antileukemia.
Hasil yang Diharapkan :
Nyeri dapat berkurang
Rencana Tindakan :
a.       Awasi tanda-tanda vital, perhatikan petunjuk nonverbal,rewel, cengeng, gelisah
               Rasional : Dapat membantu mengevaluasi pernyatan verbal dan ketidakefektifan intervensi.
b.      Berikan lingkungan yang tenang dan kurangi rangsangan stress
Rasional : Meingkatkan istirahat.
c.       Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi, ekstremitas denganan bantal
                     Rasional : Menurunkan ketidak nyamanan tulang/ sensi
d.      Ubah posisi secara periodic dan berikan latihan rentang gerak lembut.
Rasional : Memperbaiki sirkulasi jaringan dan mobilisasi sendi.
e.       Berikan tindakan ketidaknyamanan; mis : pijatan, kompres
Rasional : Meminimalkan kebutuhan atau meningkatkan efek obat.
f.       Berikan obat sesuai indikasi.

4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan transport O2 karena berkurangnya jumlah sel darah merah.
Hasil yang Diharapkan:
                        Intoleransi aktivitas tidak terjadi
Rencana Tindakan:
a.       Kaji / tekanan darah dan ritme sekurang-kurangnya 4 jam sekali
b.      Diskusikan dengan orang tua / anak tentang gejala dan tanda anemia serta pilihan perawatan yang dapat dilakukan
c.       Berikan PRBC sesuai dengan perintah
d.      Atur tindakan untuk memberikan waktu istirahat

5.      Risiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Hasil yang Diharapkan:
Perdarahan dapat berkurang
Rencana Tindakan:
a.       Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000/ml, risiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan.
b.      Minta klien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi
c.       Inspeksi kkulit, mulut, hidung, urin, feses, muntahan, dan tempat tusukan IV terhadap perdarahan.
d.      Gunakan jarum ukuran kecil
e.       Jika terjadi perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan perlahan
f.       Beri bantalan tempat tidur untuk mencegah trauma
g.      Anjurkan pada klien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.

6.      Anxietas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang diagnosa baru dan rencana perawatan
Hasil yang Diharapkan:
Anxietas tidak terjadi
Rencana Tindakan:
a.       Beritahu informasi kepada orang tua mengenai diagnosa dan perawatan yang akan diberikan
b.      Perkenalkan keluarga pada keluarga yang lain yang memiliki anak dengan terapi dan diagnosa yang sama
c.       Sediakan instruksi secara lisan dan tertulis tentang :
1)      Tindakan pencegahan yang dilakukan dirumah

2)      Kemungkinan atau alasan-alasan untuk memberitahu tim kesehatan
ANALISIS JURNAL

PARENT TRAINING FOR ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) IN CHILDREN AGED 5 TO 18 YEARS



Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perkembangan saraf. Bagi seorang anak yang didiagnosis dengan ADHD, orang dewasa seperti orang tua, pengasuh, petugas kesehatan atau guru harus lebih waspada memperhatikan dari kurangnya fokus perhatian, hiperaktif dan impulsif pada anak sebelum usia tujuh tahun dibandingkan dengan anak dari usia yang sama. Kurangnya perhatian, hiperaktif dan impulsif harus diperhatikan dalam berbagai situasi, untuk waktu yang cukup lama dan masalah dalam belajar atau perkembangan sosial anak. program Pelatihan bagi orang tua bertujuan untuk membekali orang tua dengan teknik untuk mengelola perilaku anak mereka 'yang sulit' atau terkait dengan ADHD (yaitu kurangnya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas).
Kami menemukan lima penelitian dengan metode control secara acak yang memenuhi kriteria inklusi kami. Empat penelitian untuk meningkatkan perilaku umum anak-anak dan satu fokus khusus pada bagaimana orang tua dapat membantu anak-anak bersosilasisasi dengan teman-temannya. Semua penelitian yang kecil dan kualitas penelitian bervariasi. Hasil dari penelitian ini tidak mencakup perhatian pada stres orangtua dan perilaku anak secara umum, tapi tidak secara nyata mengenai hasil  anak dengan ADHD-terkait perilaku. Studi yang tersedia adalah data tentang hasil kunci dari prestasi di sekolah, efek berbahaya atau pengetahuan orang tua tentang ADHD. Tidak ada bukti untuk mengatakan apakah pelatihan orangtua lebih baik disampaikan dalam kelompok atau secara individu.
Bukti yang kami temukan adalah terbatas dalam ukuran dan dalam kualitas mereka, dan karena itu kami tidak mendasarkan itu sebagai dasar untuk pedoman pengobatan ADHD di klinik atau sekolah. Kami percaya penelitian lebih lanjut diperlukan dan hal tersebut harus menjamin pelaporan yang lebih baik dari prosedur penelitian dan hasil penelitian.

ABSTRAK
Latar Belakang: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh tingginya tingkat kurangnya perhatian, hiperaktif dan impulsif yang terlihat sebelum usia tujuh tahun, dilihat dalam berbagai situasi, tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak dan menyebabkan fungsi sosial atau prestasi akademik mengalami penurunan.  Program pelatihan psikososial ditujukan untuk orang tua dimana diberikan pelatihan teknik untuk memungkinkan mereka dalam mengelola perilaku anak-anak mereka.

Tujuan: Untuk menentukan apakah orang tua yang diberikan pelatihan efektif dalam mengurangi gejala ADHD dan masalah yang terkait pada anak-anak berusia antara lima dan delapan tahun dengan diagnosis ADHD, dibandingkan dengan kontrol tanpa intervensi pelatihan orangtua.

Metode Penelitian: Kami mencari database elektronik (untuk semua tahun sampai September 2010): CENTRAL (2010, Issue 3), MEDLINE (1950 hingga 10 September 2010), EMBASE (1980-2010 Minggu 36), CINAHL (1937-13 September 2010), PsycINFO (1806 Week 1 September 2010), Disertasi Abstracts International (14 September 2010) dan metaRegister dari Ujian Controlled (14 September 2010). Kami menghubungi para ahli di lapangan untuk meminta rincian penelitian yang tidak dipublikasikan atau sedang berlangsung.

Kriteria seleksi: Studi acak (termasuk kuasi-acak) membandingkan pelatihan orangtua tanpa pengobatan, daftar tunggu atau perawatan biasa (adjunctive atau sebaliknya). Kami melakukan penelitian jika ADHD adalah fokus utama dari peserta lebih dari lima tahun dan memiliki diagnosis klinis ADHD atau gangguan hiperkinetik yang dibuat oleh spesialis menggunakan kriteria diagnostik yang dioperasionalisasikan dari DSM-III/DSM-IV atau ICD-10. Kami hanya mencakup uji coba yang melaporkan setidaknya satu hasil anak.

Pengumpulan data dan analisis: Empat penulis terlibat dalam abstrak skrining dan ada 2 penulis melihat secara independen di masing-masing penelitian. Kami meninjau total 12.691 penelitian dan dinilai lima penelitian yang memenuhi syarat untuk dimasukkan. Kami mengambil data dan menilai risiko bias dalam kelima penelitian tersebut. Peluang untuk meta-analisis yang terbatas dan sebagian besar data yang kita telah melaporkan didasarkan pada studi tunggal.

Hasil utama: Kami menemukan lima penelitian termasuk 284 peserta yang memenuhi kriteria inklusi, yang semuanya dibandingkan
dengan memberikan pelatihan pada orangtua dengan pengobatan de facto seperti biasa (TAU). Satu studi termasuk kelompok pendukung orangtua nondirective sebagai kelompok kontrol .
Empat penelitian yang ditargetkan pada perilaku anak-anak dan satu masalah perubahan dinilai dalam keterampilan orangtua.
Dari empat studi menargetkan perilaku anak-anak, dua terfokus pada perilaku di rumah dan dua terfokus pada perilaku di sekolah. Dua studi berfokus pada perilaku di rumah memiliki temuan yang berbeda: satu tidak menemukan perbedaan antara pelatihan orangtua dan pengobatan seperti biasa, sementara yang lain melaporkan hasil statistik yang signifikan untuk pelatihan orangtua dengan kontrol. Dua studi perilaku di sekolah juga memiliki temuan yang berbeda: satu studi tidak menemukan perbedaan antara kelompok, sementara yang lain melaporkan hasil yang positif untuk pelatihan orangtua ketika ADHD tidak ada perbedaan dengan kelompok kontrol. Dalam studi kedua, hasil yang lebih baik untuk anak perempuan dan anak-anak pada pengobatan.
Kami menilai resiko bias dalam sebagian besar penelitian. Informasi tentang randomisasi tidak muncul dalam laporan penelitian. Sehingga membuat kesulitan peserta atau personil untuk melakukan intervensi ini, juga membiaskan penilai hasil (yang paling sering orang tua yang telah diberikan intervensi) yang tidak sesuai.
Kami hanya mampu melakukan meta-analisis untuk dua hasil: 'eksternalisasi' perilaku anak (ukuran rulebreaking, perilaku sendiri atau agresi) dan anak 'internalisasi' perilaku (misalnya, penarikan dan kecemasan). Meta-analisis dari tiga studi (n = 190) memberikan data tentang perilaku eksternalisasi menghasilkan hasil yang jauh dari signifikansi statistik (SMD -0.32, 95% CI -0.83 sampai 0,18, I2 = 60%). Sebuah meta-analisis dari dua studi (n = 142) untuk perilaku internalisasi memberikan hasil yang signifikan dalam kelompok orang tua pelatihan (SMD -0.48, 95% CI -0.84 sampai -0.13, I2 = 9%). Data dari penelitian ketiga mungkin telah memberi kontribusi pada hasil ini, dan kami memiliki beberapa kekhawatiran tentang bias pelaporan hasil selektif.
Hasil penelitian individu untuk hasil perilaku anak dicampur. Hasil positif pada inventarisasi masalah perilaku anak dilaporkan selama satu studi kecil (n = 24) dengan peringatan bahwa hasilnya positif ketika pelatihan orangtua diberikan kepada individu dan bukan kelompok. Dalam studi lain (n = 62), efek positif (sekali hasilnya disesuaikan dengan data demografi dan baseline) dilaporkan untuk kelompok intervensi pada ukuran keterampilan sosial.
Penelitian (n = 48) bahwa keterampilan pengasuhan dinilai dari perubahan pelatihan orangtua dibandingkan dengan kelompok pendukung orangtua nondirective. Perbaikan signifikan secara statistik dilaporkan untuk kelompok pelatihan orangtua. Dua penelitian (n = 142) memberikan data indeks stres orang tua yang cocok untuk menggabungkan dalam meta-Analisis. Hasilnya cukup signifikan untuk domain 'anak' (MD -10,52, 95% CI -20,55 sampai -0.48) tapi bukan 'orang tua' domain (MD -7,54, 95% CI -24,38 sampai 9,30). Hasil dari sebuah penelitian kecil (n = 24) menyarankan manfaat jangka panjang bagi para ibu yang menerima intervensi pada tingkat individu, sebaliknya, ayah diberikan pelatihan  jangka pendek kelompok. Sebuah studi keempat melaporkan data perubahan untuk langkah-langkah dalam kelompok stres orangtua dan menemukan manfaat yang signifikan dalam hanya satu dari kelompok aktif orangtua pelatihan kelompok (P ≤ 0,01).
Studi melaporkan ada data untuk prestasi akademik, efek samping atau pemahaman orangtua tentang ADHD.

Kesimpulan Penulis : Pelatihan orang tua mungkin memiliki efek positif pada perilaku anak-anak dengan ADHD. Hal ini juga dapat mengurangi stres orangtua dan meningkatkan kepercayaan orangtua. Namun, kualitas metodologi yang buruk dari studi termasuk meningkatkan risiko bias dalam hasil penelitian. Data mengenai ADHD-spesifik pada perilaku tergolong ambigu. Untuk hasil penting, termasuk prestasi sekolah dan efek samping, data kurang.
Bukti dari ulasan ini tidak cukup kuat untuk membentuk dasar untuk pedoman praktek klinis. Penelitian di masa depan harus memastikan pelaporan yang lebih baik dari prosedur penelitian dan hasil.


 DEFINISI, JENIS-JENIS, TANDA GEJALA DAN TERAPI PADA (ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDERS) ADHD

A.    DEFINISI ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDERS
            Menurut DSM-IV definisi ADHD sendiri adalah sebagai berikut: Memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak  selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat  perkembangan;
1.  INATTENTION
a)      Sering gagal dalam memberi perhatian secara erat , secara jelas atau membuat kesalahan yang  tidak terkontrol dalam :
1.Sekolah
2.Bekerja
3.Aktifitas lainnya
b)      Sering mengalami kesulitan menjaga perhatian/ konsentrasi dalam menerima tugas atau aktifitas bermain.
c)       Sering  kelihatan tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung
1. Menyelesaikan pekerjaan rumah
2. Pekerjaan atau tugas
3. Mengerjakan perkerjaan rumah  (bukan karena perilaku melawan)
4. Gagal untuk mengerti perintah
d)   Sering kesulitan mengatur tugas dan kegiatan
e)    Sering menghindar, tidak senang atau enggan mengerjakan  tugas yang membutuhkan usaha (seperti pekerjaan sekolah atau perkerjaan rumah)
f)    Sering kehilangan suatu yang dibutuhkan untuk tugas atau kegiatan (permainan, tugas sekolah, pensil, buku dan alat sekolah lainnya )
g)   Sering mudah mengalihkan perhatian dari rangsangan dari luar yang tidak berkaitan
h)   Sering melupakan tugas atau kegiatan sehari-hari memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan.

2. HIPERAKTIFITAS
a)      Sering merasa gelisah tampak pada  tangan, kaki dan menggeliat dalam   tempat duduk.
b)      Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk.
c)  Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya (pada  dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan )
d)     Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang.
e)      Sering berperilaku seperti mengendarai motor
f)       Sering berbicara berlebihan

3. IMPULSIF
a)        Sering mengeluarkan perkataan tanpa berpikir, menjawab pertanyaan sebelum pertanyaannya selesai.
b)        Sering sulit menunggu giliran atau antrian
c)        Sering menyela atau memaksakan terhadap  orang lain (misalnya dalam percakapan atau permainan).

B.     JENIS-JENIS ADHD
Ada tiga jenis ADHD, termasuk:
1.        Gabungan ADHD (jenis yang paling umum), yang melibatkan semua gejala
2.         Pelengah ADHD (sebelumnya dikenal sebagai ADD), yang ditandai oleh gangguan perhatian dan konsentrasi
3.        Hiperaktif-impulsif, yang ditandai oleh hiperaktivitas tanpa inattentive.
Inattentive Symptoms yaitu anak ADHD jenis ini tidak bisa atau kurang dapat memusatkan perhatian, sulit berkonsentrasi, tidak mau mendengar perintah dan larangan, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan, sering kali pekerjaannya menjadi terbengkalai/terlupakan dan terkadang mengalihkan ke pekerjaan lainnya.
Hiperactive Impulsive yaitu anak ADHD dengan jenis seperti ini selalu menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan, sering menginterupsi pembicaraan orang lain, suka sekali mengganggu temannya, terkadang suka membuat keributan, cenderung energik, suka berlari-larian atau melompat-lompat.

C.     TANDA GEJALA ADHD
1.  Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
2.  Gejala-gejala tersebut muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)
3. Harus ada bukti nyata secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
4.    Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).

D.    TERAPI PADA ADHD
1)      Penanganan ADHD dengan Resep Obat
Biasanya, obat-obatan untuk ADHD mengandung stimulan berbasis amfetamin, obat neuroleptik, obat antihipertensi, anti depresan, non-stimulan amfetamin dan obat-obatan neuroleptik. Namun, semua bahan bersama efek samping mereka sendiri. Semuanya bisa dibilang efektif tetapi kenyataannya bahwa semuanya memberi efek samping negatif tidak begitu nyaman. Pasien sering mengalami kegelisahan, sakit kepala, nyeri perut, penurunan berat badan, muntah, sakit tenggorokan, pusing, sinusitis dan insomnia. Bagi sebagian orang, ini hanya efek samping ringan sehingga mereka masih terus menggunakannya. Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa jangka panjang dari penggunaan obat ADHD dapat menyebabkan kelainan perkembangan otak yang secara langsung serupa dengan orang yang berlebihan mengkonsumsi kokain.
2)      Psikoterapi dan Terapi Perilaku
Jenis pengobatan ini tidak memerlukan jenis obat-obatan,  tetapi menggunakan metode lain seperti memberi motivasi perilaku positif dan menggunakan tindakan yang tepat untuk menghilangkan perilaku buruk. Jenis terapi ini dapat efektif untuk anak-anak, remaja dan dewasa.
3)      Psikoterapi bisa menjadi solusi terbaik untuk orang dewasa dengan ADHD.
Secara signifikan dapat membantu orang dewasa mengidentifikasi mengapa mereka memiliki penyakit ini dan bagaimana ADHD mempengaruhi pekerjaan, hubungan dan pendidikan mereka. Sesi terapi ini dapat memberikan bantuan kepada orang dewasa untuk meningkatkan keterampilan dalam mengatur waktu, jadwal pekerjaan dan tugas.
Namun, harus diingat bahwa keberhasilan terapi tidak bergantung pada seberapa baik para terapis melakukan pekerjaan mereka. Hal ini tergantung pada kemauan pasien untuk sembuh. Resep obat-obatan bisa lebih cepat dan lebih efektif dengan biaya yang terjangkau, tapi terapi menyediakan cara yang lebih aman untuk mengobati ADHD meskipun kemungkinan sembuh dari gangguan tersebut terlalu rendah dan biaya lumayan mahal.
4)      Musik Terapi Gelombang Otak untuk ADHD

Jika Anda ingin menghindari penggunaan obat-obatan karena kawatir efek sampingnya, atau tidak bisa menjangkau biaya psikoterapi yang memrlukan banyak biaya dan menguras banyak waktu juga, ada alternatif pengobatan ADHD/hiperaktif lainnya, yaitu menggunakan Musik Terapi Gelombang Otak, terapi ini bisa anda gunakan sendiri di rumah, tanpa harus minum obat, tanpa harus pergi ke therapist. Terapi ini bekerja dengan menstimulasi otak pada frekwensi tertentu, tepatnya pada gelombang SMR, karena di ketahui bahwa: penyandang ADHD mengalami gangguan pada gelombang SMRnya.

Pengertian ADHD Dalam Kesehatan 

ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah, suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan.

Epidemiologi Angka kejadian DHD di seluruh dunia diperkirakan mencapai hingga lebih dari 5 %. Dimana dilaporkan lebih banyak terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. Di amerika penelitian menunjukan kejadian ADHD mencapai hingga 7 % Patogenesis Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya (autisme), beberapa faktor yang berperan dalam timbulnya ADHD adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak saat perinatal,
Tingkat kecerdasan (IQ), terjadi disfungsi metabolism, hormonal, lingkungan fisik dan sosial sekitar, asupan gizi, dan orang-orang dilingkungan sekitar termasuk keluarga. Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmitter dopamine dan epinephrine. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki resiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD.
Teori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmitter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri. Beberapa faktor resiko yang meningkatkan terjadinya ADHD. kurangnya deteksi dini.

Pada lahan praktik keluarga di Padukuhan Tegalsari, terdapat keluarga yang memiliki anak dengan ADHD. Pada saat orang tua anak diwawancarai tidak mengetahui tentang perawatan anak dengan ADHD, mereka beranggapan bahwa itu merupakan hal yang wajar untuk anak kecil. Mengingat kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan pada anak dengan ADHD karenanya saya tertarik untuk menganalisis jurnal ini yang berjudul “Pelatihan pada orang tua pada anak dengan ADHD pada usia 5 sampai 8 tahun”. Sehingga diharapkan perawatan pada anak dengan ADHD menjadi lebih optimal.

Wednesday, 13 May 2015

Differences prophets and apostles

The scholars cite many differences between the prophets and apostles, but the explanation here is only explained in part only. Among those differences are:
sumber93.blogspot.com

Apostolate levels higher than the level of prophetic, Apostle sent to the unbelievers, while the prophet was sent to a people who have faith. The apostles were sent to bring new shari'ah, whereas the prophet simply follow the previous Shari'ah, The whole apostle saved from attempted murder of his people, but most of the prophets never be killed by his people.
Ibn Kathir says that, Ibn Abi Hatim narrated a hadith from companions Abu Ubaidah, he said that the Jews had killed 43 prophets once in the morning, then there was a group of righteous people who oppose the killing, but in the afternoon, a group of righteous people are killed them anyway ,
The prophets may convey revelations but no obligation on certain people or certain regions. Meanwhile, the word "apostle" comes from the word meaning submission Risala. Therefore, the apostles, after first appointed as a prophet, in charge of revelation to the obligation on a people or a particular region.
Prophets and apostles in the Qur'an [edit | edit source]
The Qur'an mentions some as a prophet. The first prophet was Adam and the Prophet Muhammad is the last messenger at the same time assigned to convey Islam and regulations specific to man in his day that Man is ready to face the day of Judgment.
In addition to the 25 apostles at the same prophet, there are also other prophets such as in the story of Khidr with Moses that is written in Al-Kahf verse 66-82. There is also the story of Uzayr and Syamuil. Also prophets written in the Hadith and Qur'an, as Yusya 'bin Nun, IYS, and Syits.
While the saints are still being debated as a prophet or guardian is Luqman al-Hakim in Surah Luqman.

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

SEMOGA BERMANFAAT BUAT PEMBACA

Text Widget