Sunday, 17 May 2015

BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosi. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan oleh perorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat yang didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti keluarga dan lingkungan sosial. Lingkungan tersebut selain menunjang upaya kesehatan jiwa juga merupakan stressor yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa seseorang, pada tingkat tertentu dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam kondisi gangguan jiwa (Videbeck, 2008).
WHO (1990) melaporkan dari 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, 5 diantaranya adalah masalah kesehatan jiwa yaitu; depresi (1), alkoholisme (4), ganguan bipolar (6), skizofrenia (9) dan obsesif kompulsif (10). Selain itu WHO memprediksikan pada tahun 2020 mendatang depresi akan menjadi penyakit urutan kedua dalam menimbulkan beban kesehatan. Besarnya masalah kesehatan mental di Indonesia tidak jauh berbeda. Prof. Askobat Gani (2005) menghitung bahwa beban penyakit gangguan jiwa mencapai 13.8% dari seluruh beban penyakit di Indonesia.
Jumlah individu yang mengalami gangguan jiwa sangat besar. Diperkirakan 30% penduduk mengalami berbagai bentuk masalah gangguan jiwa semasa kehidupannya, 10% diantaranya mengalami gangguan jiwa berat. Dengan populasi yang mencapai angka 238 juta jiwa, maka terdapat 66 juta penduduk Indonesia pernah mengalami gangguan jiwa. Jumlah orang yang terkena dampak meningkat sangat bermakna bila menghitung minimal 8 orang anggota keluarga dari penderita ikut terkena dampak dari gangguannya. Jelas gangguan jiwa di Indonesia berdampak pada lebih dari separuh penduduk. Dan keadaan seperti ini tidak dapat dibiarkan terus menerus.

Sebanyak 1 juta - 2 juta masyarakat Indonesia terdeteksi mengalami schizofrenia. Ironisnya, banyak orang yang tidak mengerti benar mengenai penyakit ini. Schizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa yang berkaitan dengan masalah medik. Penyakit ini sering kambuh dan mempengaruhi semua aspek kehidupan penderita
Psikosis sebagai salah satu gejala  gangguan jiwa berupa distorsi atau disorganisasi makro dari kapasitas mental seseorang yaitu, ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau mengenali realitas yang menimbulkan kesukaran dalam kemampuan seseorang untuk berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan sehari – hari. Salah satu gangguan psikosis adalah schizofrenia dimana schizofrenia itu sendiri adalah gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek tentang schizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Sebagai suatu sindrom, pendekatan schizofrenia harus dilakukan secara holistik salah satunya aspek farmakologi. Obatan obat antipsikotik dapat diberikan untuk mengatasi schizophrenia namun tentunya penggunaan obat antipsikotik pada pasien dapat memberik efek samping yaitu gangguan aktivitas motorik yang sering disebut gejala parkinzon, parkinzon merupakan gangguan motorik seperti kekakuan anggota gerak.
Mengingat kompleksnya gangguan schizofrenia, untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal, klinikus perlu memperhatikan beberapa fase simptom gangguan schizofrenia, yaitu : fase prodromal, fase aktif dan fase residual.  Hasil akhir yang ingin dicapai adalah penderita schizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial dan keluarga.

B.     TUJUAN
Tujuan menganalisa jurnal ini adalah untuk mengetahui tingkat kekambuhan pada pasien skizofrenia dalam kepatuhan pengobatan dengan menggunakan long acting injeksi antipsikotik sehingga nantinya perawat dapat mengaplikasikan dalam pengobatan untuk mencegah kekambuhan pada pasien skizofrenia.

BAB II
ANALISA JURNAL


A.    JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian ini adalah “Kepatuhan Pengobatan dengan Resep awal dari Long-Acting injeksi Antipsikotik Skizofrenia di Onset terbaru”. Dalam judul ini tidak dicantumkan tempat dan tahun penelitian. Menurut Arikunto (2006), Judul penelitian yang lengkap diharapkan mencakup 5 komponen, komponen tersebut adalah sifat dan jenis penelitian, objek yang diteliti, subjek penelitian, lokasi penelitian, dan tahun atau waktu terjadinya peristiwa.

B.     NAMA PENELITI
Annie Viala

C.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Dalam jurnal terdapat latar belakang, dan tujuan penelitian, latar belakang  kurang sistematis sesuai dengan tata cara penulisan penelitian dari yang umum ke khusus. Dalam penelitian ini penulis tidak mencantumkan tempat melakukan penelitian.
Saran :
Sebaiknya penulis mencantumkan alasan mengapa melakukan penelitian seperti ini dan juga mencantumkan tempat dan waktu penelitian.
2.      Rumusan Masalah
Masalah penelitian yang disampaikan peneliti adalah Skizofrenia menjadi tetap penyakit kronis mengenai sekitar 1% dari populasi umum dunia. Pengobatan pada fase pertama umumnya menguntungkan 1-2tahun. Ketidakpatuhan pengobatan pada skizofrenia merupakan penyebab utama dari kambuh dan rehospitalisasi.

3.      Dampak masalah jika tidak teratasi
Relaps dan rehospitalisasi memperburuk prognosis pasien dengan skizofrenia, dampak pada pasien dan keluarga dan kualitas hidup dan meningkatkan biaya kesehatan langsung dan tidak langsung



4.      Tujuan penelitin
Untuk menyelidiki hasil dari penyakit untuk sebuah kepatuhan yang lebih baik dengan RLAI terintegrasi dalam pengobatan psikososial, khususnya jumlah rawat inap, dan juga kemungkinan reintegrasi professional kekeluargaan dan social.

5.      manfaat penelitian
Di dalam penelitian ini belum mencantumkan manfaat penelitian.
               Saran :
               Sebaiknya, peneliti mencantukan pihak-pihak yang mendapatkan manfaat dari penelitian secara detail, missal :
a.       Bagi Rumah Sakit Jiwa X
Mengetahui manfaat dari kepatuhan pengobatan dengan resep awal dari long acting injeksi antipsikotik skizofrenia di onset terbaru, sehingga dapat diaplikasikan di rumah sakit.
b.      Bagi peneliti
Menambah pengetahuan peneliti mengenai kepatuhan pengobatan dengan resep awal dari long acting injeksi antipsikotik skizofrenia di onset terbaru.
c.       Bagi peneliti lain
Menambah referensi bagi peneliti lain yang ingin meneliti dengan tema yang sama sehingga penelitian yang akan dilakukan lebih menyempurnakan penelitian yang ada.

6.      Ruang lingkup masalah
Kelemahan :
Di dalam jurnal penelitian ini tidak dicantumkana ruang lingkup masalah secara rinci yang meliputi : variabel, lokasi, waktu
Saran :
a.       Variabel :
kepatuhan pengobatan dengan resep awal dari long acting injeksi antipsikotik skizofrenia di onset terbaru.
b.      Responden :
Responden dalam penelitian ini adalah semua klien jiwa baik laki-laki dan perempuan minimal 18 tahun yang psikotik yang dirawat di ruang inap Rumah  X.
c.       Lokasi :
Di ruang rawat inap Rumah Sakit  X


7.      Keaslian Penelitian
Penulis tidak mencantumkan keaslian penelitian
Saran :
Sebaiknya penulis mencantumkan keaslian penelitian sebelumnya sebagai salah satu acuan dan perbandingan dengan penelitian lain.




BAB III
TINJAUAN PUSTAKA


A.    LANDASAN TEORI
Dalam jurnal tidak dicantumkan mengenai tinjauan pustaka yang digunakan untuk menunjang teori yang akan digunakan dalam penelitian. Pemilihan tinjauan pustaka yang tepat dalam penelitian ini adalah teori tentang masing masing variable dalam penelitian. Jurnal ini sudah mencantumkan literature yang yang menunjang teori.
B.     KERANGKA TEORI DAN HEPOTESA
Dalam jurnal tidak ada kerangka teori dan serta tidak dicantumkan mengenai hipotesis penelitian. Sehingga jurnal belum dapat mendiskripsikan dengan jelas tentang dugaan dari hasil penelitian. Hal ini akan menyebabkan pembaca tidak dapat memahami konsep penelitian serta dugaan hasil penelitian yang dilakukan.
Saran :
1.      Sebaiknya tinajauan pustaka harus memuat semua teori mengenai penelitian yang akan dilakukan berdasarkan penelitian.
2.      Sebaiknya tinjauan pustaka yang digunakan mengikuti alur yang logis dan banyak mencerminkan review terhadap penelitian yang dilakukan.

Sebaiknya mencantumkan review secara kritis menelaah dan membandingkan hasil-hasil penelitian lain.


BAB III
METODE PENELITIAN


A.    JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam jurnal ini adalah penelitian survey dengan metode kuantitatif, statistic deskriptif

B.     VARIABEL PENELITIAN
Pada penelitian ini tidak dicantumkan untuk variable penelitian, baik variable dependent dan variable independent.

C.    LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Lokasi dan waktu penelitian tidak dicantumakan dalan jurnal

D.    POPULASI DAN SAMPEL
Populasi dalam penelitian ini adalah 120  pasien, data yang disajikan di sini berasal dari penelitian prosfektif naturalistic dari 120 pasien yang diobati dengan injeksi risperidone, dan sampel yang digunakan dalam penelitian sejumlah 25 pasien dirawat untuk pertama kalinya. Dalam jurnal tidak dicantumkan teknik pemilihan sampel penelitian. Namun dijelaskan bahwa sampel dipilih berdasarkan criteria inklusi dan ekslusi.

E.     DEFINISI OPERASIONAL
Peneliti belum mencantumkan definisi operasional yang merupakan batasan-batasan apa yang akan diteliti dan bagaimana cara menilainya dengan skala data

F.     INSTRUMEN DAN PROSEDUR PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data dilakukan secara acak sesuai dengan criteria yang dijelaskan

G.    ANALISA DATA
Pada jurnal ini menggunakan analisis deskriptif yang hasilnya untuk data kuantitatif untuk semua pasien dengan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov dilanjutkan dengan tes wilcoxon signedrank.


        BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    PEMBAHASAN
Skizofrenia tetap menjadi penyakit kronis mengenai sekitar 1% dari populasi umum di dunia, walaupun respon terhadap pengobatan dalam fase awal evolusi umumnya menguntungkan, diperkirakan bahwa tingkat kepatuhan terhadap pengobatan 1 tahun setelah keluar dari rumah sakit hanya sekitar 50 %, dan 75% dalam dua tahun pertama pengobatan  Penyebabnya adalah multifaktorial: penolakan penyakit, efek samping obat, gangguan kognitif, komorbiditas terutama penyalahgunaan zat [3] dan juga dokter-pasien hubungan
Relaps dan rehospitalisations memperburuk prognosis pasien dengan skizofrenia, dampak kedua pasien dan families'insertion dan kualitas hidup, dan meningkatkan biaya kesehatan langsung dan tidak langsung.  Pengobatan dengan LAIAs, yang mendorong kepatuhan (kurang efek samping, stabilisasi tingkat obat), dapat mencegah risiko gangguan pengobatan yang merupakan penyebab utama kambuh dan rehospitalisation. Jenis pengobatan, digunakan sedini mungkin, sejak episode pertama skizofrenia, dapat memperbaiki prognosis jangka panjang, khususnya bila dikaitkan dengan metode reintegras dan interaktif menindaklanjuti menggunakan bunga injeksi bulanan atau dua bulan sekali. Tujuan dari penelitian kami adalah untuk menyajikan tindak lanjut dalam "kehidupan nyata" dari 25 pasien, rumah sakit untuk pertama kalinya, dikerjakan dengan RLAI terkait dengan metode reintegrasi dan multidisiplin tindak lanjut, setidaknya selama 18 bulan, untuk mengevaluasi dampak : 1/on kambuh dan tingkat rehospitalisation; kepatuhan pengobatan
Mengobati sedini mungkin, dari episode pertama jika mungkin, dapat mengurangi kambuh, jumlah dan durasi rawat inap, dan juga gejala kognitif, penyakit memburuk dan usaha bunuh diri, dan dengan demikian meningkatkan prognosis, dan biaya juga langsung dan tidak langsung, Long-acting antipsikotik injeksi menggabungkan kelebihan dari kedua antipsikotik baru (kemanjuran, gejala ekstrapiramidal lebih sedikit) dan perumusan long-acting mereka dapat mengurangi kambuh melalui kepatuhan pengobatan meningkat pada pasien dengan skizofrenia

B.     KELEBIHAN JURNAL PENELITIAN
Penelitian ini menambah wawasan tentang kepatuhan pengobatan dengan mengunakan Long-Acting injeksi Antipsikotik Skizofrenia secara awal akan menguntungkan bagi pasien dan keluarga dalam mencegah kekambuhan da rehospitalisasi pada pasien skizofenia.
C.    IMPLIKASI KEPERAWATAN
1.      Hasil dari penelitian jurnal dan analisis yang telah dilakukan diharapkan mampu memberikan tambahan wawasan mengenai kepatuhan pengobatan pada skizofrenia untuk mencegah kekambuhan dengan long acting injeksi antispikotik.
2.      Perlunya peningkatan pengetahuan perawat tentang macem-macem pengobatan pada pasien psikotik dan kemampuan perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa.
3.      Melibatkan psikologi dalam mempersiapkam dalam terapi yang diberikan pada klien untuk mencegah kekambuhan.
4.      Lakukan penelitian tentang hal-hal yang mempengaruhi tingkat kekambuhan pada klien psikotik.




BAB V
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Jurnal ini memberikan hasil penelitian sebagai berikut:
Menggunakan injeksi long acting antipsikotik sebagai terapi pengobatan awal dapat mengurangi tingkat kekambuhan dan meningkatkan prognosis dan harus dipertahankan dalam pengobatan jangka panjang skizofrenia. Fungsi tambahan yang bersangkutan adalah peningkatan motivasi mendorong kepatuhan dan aktif berpartisipasi dalam rencana keperawatan untuk pasien skizofrenia, kerabat, dan psikiater.

B.     SARAN
1.      Perlu adanya penelitian lanjutan dengan desain penelitian klinik acak tercontrol tersamar ganda, jumlah sampel yang besar, mengendalikan semua faktor perancu, dengan sampel yang lebih representatif, juga perlu membandingkan skizofrenia dengan psikoterapi jenis lain.
2.      Untuk petugas kesehatan/ perawat
Perawat dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai tindakan kolaborasi perawat dengan dokter dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan jiwa..
3.      Untuk peneliti berikutnya
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian berikutnya.


SKENARIO KASUS G

Dalam satu minggu di daerah Segoro Kulon ditemukan 6 orang positif menderita Demam Berdarah, 1 orang meninggal, 1 orang dirujuk ke RSUD, 2 orang masih dirawat di Puskesmas terdekat, 2 orang pulang rawat. Masyarakat menginginan adanya tindakan segera dari Puskesmas untuk penanganan kasus ini agar tidak terjadi korban baru. Masyarakat berharap pemerintah dalam hal ini Puskesmas bisa memberikan bantuan secara gratis, karena sebagian besar penduduk Segoro Kulon hanya sebagai buruh tani.

TIK : Mahasiswa mampu menjelaskan :
  • Wabah
  • Demam Berdarah
  • Penanganan DB di masyarakat

I.                   IDENTIFIKASI MASALAH

  • Dalam satu minggu di daerah Segoro Kulon ditemukan 6 orang positif menderita Demam Berdarah, 1 orang meninggal, 1 orang dirujuk ke RSUD, 2 orang masih dirawat di Puskesmas terdekat, 2 orang pulang rawat.
  • Masyarakat menginginan adanya tindakan segera dari Puskesmas untuk penanganan kasus ini agar tidak terjadi korban baru.
  • Masyarakat berharap pemerintah dalam hal ini Puskesmas bisa memberikan bantuan secara gratis, karena sebagian besar penduduk Segoro Kulon hanya sebagai buruh tani.

II.                ANALISA MASALAH

·         Orang positif menderita kasus Demam Berdarah
·         Patofisiologi Demam Berdarah
·         Komplikasi Demam Berdarah
·         Penanganan Demam Berdarah
·         Diagnosa keperawatan yang muncul
·         Peran perawat sebagai konsultan klien
III.             TINJAUAN TEORI

  1. Definisi Demam Berdarah
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina)

  1. Etiologi Demam Berdarah
Penyakit ini disebabkan oleh suatu virus yang menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti.

  1. Manifestasi Klinis Demam Berdarah
1.      Demam
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 – 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya.
2.      Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 jdari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniguet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura.. Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis.. Perdarahan gastrointestinat biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat.
3.      Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita

4.       Renjatan (Syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk.

Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4 derajat, yaitu :
·         Derajat I:
Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif.
·         Derajat II :
Gejala-gejala derajat I, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat.
·         Derajat III:
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmHg), hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.
·         Derajat IV :
Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

  1. Pentahapan Demam Berdarah
1.      Masa inkubasi
Dimulai sejak digigit nyamuk (virus masuk dan berkembang biak di tubuh) samapai demam / sakit kepala muncul pertama kali, lamanya sekitar 5-10 hari.
2.      Masa akut
Terjadi demam 1-3 hari, dengan gejala demam tinggi mendadak yang sulit diturunkan dengan obat-obat penurun panas, pusing/sakit kepala, mual, muntah, nyeri ulu hati, nyeri belakang kepala, nyeri otot dan sendi, timbul bintik-bintik merah pada tangan/kaki. Demam 1-2 hari pertama dapat dipastikan menderita demam berdarah atau tidak dengan pemeriksaan lab Ns 1 Ag.
3.      Masa kritis
Pada masa ini suhu tubuh mulai turun namun jumlah trombosit juga turun dan darah mengental. Dapat terjadi demam 4-6 hari. Pada fase ini dapat terjadi komplikasi syok atau pendarahan.
  1. Patofisiologi Demam Berdarah
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang menyolok, yaitu meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).
Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.
Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat. Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui. Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD, namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti. Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanaya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infesi Dengue sebelumnya. Namun demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons imun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD.

  1. Komplikasi Demam Berdarah
Jika dibiarkan, si penderita bisa mengalami berbagai komplikasi. Misalnya, komplikasi pada organ hati, otak, dan rusaknya saluran darah. Bahkan seringkali berakhir dengan kelumpuhan dan kematian.



  1. Pemeriksaan Penunjang Demam Berdarah
·           Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
·           Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)
Pemeriksaan non spesifik demam berdarah :
·         Hematologi pemeriksaan darah rutin : trombosit <200.000; leukosit <4.000; haematokrit (kekentalan darah meningkat ); haemoglobin; limfosit plasma biru.
·         Kimia, dengan SGOT dan SGPT
Pemeriksaan spesifik demam berdarah:
·         Antigen : Ns 1 Ag: sensitif pada hari 1-2
·         Antibodi : IgM & IgG : muncul pada hari ke 6-7 demam
  1. Diagnosis Demam Berdarah
Diagnosis DD ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai tabel 1, dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda perembesan plasma (hemokonsentrasi, hipovolemia, dan syok).
Sedangkan diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO sebagai berikut:
·         Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
·         Terdapat manifestasi perdarahan : uji torniquet positif, petekiae, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan atau melena.
·         Hepatomegali.
·         Syok


1.      Kriteria klinis
  1. Prognosis Demam Berdarah
Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DF dan DHF tidak ada yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kematian terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf, kardiovaskuler, pernapasan, darah, dan organ lain.
Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :
·         Keterlambatan diagnosis
·         Keterlambatan diagnosis shock
·         Keterlambatan penanganan shock
·         Shock yang tidak teratasi
·         Kelebihan cairan
·         Kebocoran yang hebat
·         Pendarahan masif
·         Kegagalan banyak organ
·         Ensefalopati
·         Sepsis
·         Kegawatan karena tindakan

  1. Penatalaksanaan Medis Demam Berdarah
1. Demam Dengue
Medikamentosa:
·         Antipiretik (apabila diperlukan) : paracetamol 10 – 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari. Tidak dianjurkan pemberian asam asetilsalisilat/ibuprofen pada anak yang dicurigai DD/DBD.

Edukasi orang tua:
·         Anjurkan anak tirah baring selama masih demam.
·         Bila perlu, anjurkan kompres air hangat.
·         Perbanyak asupan cairan per oral: air putih, ASI, cairan elektrolit, jus buah, atau sup. Tidak ada larangan konsumsi makanan tertentu.
·         Monitor keadaan dan suhu anak dirumah, terutama selama 2 hari saat suhu turun. Pada fase demam, kita sulit membedakan antara DD dan DBD, sehingga orang tua perlu waspada.
·         Segera bawa anak ke rumah sakit bila : anak gelisah, lemas, muntah terus menerus, tidak sadar, tangan/kaki teraba dingin, atau timbul perdarahan.
2. Demam Berdarah Dengue
Fase demam
·         Prinsip tatalaksana DBD fase demam sama dengan tatalaksana DD.
·         Antipiretik: paracetamol 10 – 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari.
·         Perbanyak asupan cairan oral.
·         Monitor keadaan anak (tanda-tanda syok) terutama selama 2 hari saat suhu turun. Monitor trombosit dan hematokrit secara berkala.
Penggantian volume plasma
·         Anak cenderung menjadi dehidrasi. Penggantian cairan sesuai status dehidrasi pasien dilanjutkan dengan terapi cairan rumatan.
·         Jenis cairan adalah kristaloid : RL, 5% glukosa dalam RL, atau NaCl.





Kebutuhan cairan pada rehidrasi ringan-sedang
Berat Badan (Kg)
Jumlah Cairan
(ml/kg BB/hari)
< 7
220
7 – 11
165
12 – 18
132
>18
88
Kebutuhan cairan rumatan
Berat Badan (Kg)
Jumlah cairan (ml)
10
100 per kg BB
10 – 20
1000 + 50 x kg BB (untuk BB di atas 10 kg)
>20
1500 + 20 x kg BB (untuk BB di atas 20 kg)
Kriteria rawat inap dan memulangkan pasien
Kriteria rawat inap
Kriteria memulangkan pasien
Ada kedaruratan:
• Syok
• Muntah terus menerus
• Kejang
• Kesadaran turun
• Muntah darah
• Berak hitam
Hematokrit cenderung meningkat setelah 2 kali pemeriksaan berturut-turut
Hemokonsentrasi (Ht meningkat = 20%)
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
Nafsu makan membaik
Secara klinis tampak perbaikan
Hematokrit stabil
Tiga hari setelah syok teratasi
Trombosit > 50.000/uL
Tidak dijumpai distres pernafasan

  1. Pencegahan Demam Berdarah
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian Vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypty. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier :

1. Pencegahan Primer
Adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum mulai (pada periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar tidak terjadi proses penyakit.

a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSM), Pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
1. Menguras Bak Mandi/ penampungan air, sekurang-kurangnya sekali seminggu.
2. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
3. Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
4. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas, dan ban bekas di sekiter rumah, dsb.

b. Biologis
Pengendalian Biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) dan bakteri (Bt.H-14).

c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan: Pengasapan (dengan menggunakan malathion dan Vention), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate (Temetphos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, Gentong air, vas bunga, kolam, dsb. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalanh dngan Mengkombinasikan cara-cara diatas, yang disebut dengan ‘3M Plus’, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu, juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dan lain-lain sesuai dengan kondisi setempat.

B. Pencegahan Sekunder
Adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit berlangsung namun belum timbul tanda/ gejala sakit (Patogenesis awal) dengan tujuan proses penyakit tidak berlanjut.
A. Diagnosis dini dan pengobatan segera
Diagnosa demam berdarah dengue adalah Diagnosa ditegakkan dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan darah :
1. Trombositopeni, jumlah trombosit kurang dari 100.000 sel/ mm3
2. Hemokonsentrasi, jumlah hematokrit meningkat paling sedikit 20% diatas rata-rata.

  1. ASKEP DEMAM BERDARAH
A. Pengkajian
1. Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa (Effendy, 1995).
2. Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4. Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
5. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
6. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
7. Riwayat Tumbuh Kembang
8. Pengkajian Per Sistem
 Sistem PernapasanÓ
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
 Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS
 Sistem Cardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
 Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
 Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.
 Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni).
6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi anak.
7. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat informasi.

C. Rencana Asuhan Keperawatan.
DP 1 : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria : - Suhu tubuh antara 36 – 37
- Nyeri otot hilang
Intervensi :
a. Kaji suhu tubuh pasien
Rasional : mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensi
b. Beri kompres air hangat
Rasional : mengurangi panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil.
c. Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi)
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
d. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
e. Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai indikasi
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
f. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien.

DP 2 : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi defisit voume cairan
Kriteria : - Input dan output seimbang
- Vital sign dalam batas normal
- Tidak ada tanda presyok
- Akral hangat
- Capilarry refill < 2 detik
Intervensi :
a.       Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler
b. Observasi capillary Refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
b.      Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.
d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral
e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.

DP 3 : Resiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang
berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : - Tanda Vital dalam batas normal
Intervensi :
a. Monitor keadaan umum pasien
Rasional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok /syok.
c.       Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok.
d.      Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.
e.       Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.
e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

DP 4 : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria : - Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
- Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi
b. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)
Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.
f.       Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral
f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.

DP 5 : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni)
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : - TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat
- Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat.
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
b. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )
Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
c. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan seperti : hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.
d. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.
e. Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari
Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.

DP 6 : Kecemasan orangtua berhubungan dengan kondisi anak.
: ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria : - klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
- tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.
a. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
Rasional : memudahkan intervensi.
b. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.
Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas.
c. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan.
d. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.
Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.
e. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas.
Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.
f. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.
Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.
g. Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.
Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.
h. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.
Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.

DP 7 : Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat informasi.
Tujuan : orang tua mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan
proses pengobatan.
Kriteria : - melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
b. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.
Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
d. Anjurkan keluarga untuk memperhatikan perawatan diri dan lingkungan bagi anggota keluarga yang sakit. Lakukan/demonstrasikan teknik perawatan diri dan lingkungan klien.
Rasional : perawatan diri (mandi, toileting, berpakaian/berdandan) dan kebersihan lingkungan penting untuk menciptakan perasaan nyaman/rileks klien sakit.
e. Minta klien/keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

D. Evaluasi
1. Suhu tubuh normal
2. Tidak terjadi devisit voume cairan
3. Tidak terjadi syok hipovolemik
4. Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
5. Tidak terjadi perdarahan
6. Ansietas berkurang/terkontrol

7. orang tua memahami tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

SEMOGA BERMANFAAT BUAT PEMBACA

Text Widget