Saturday, 23 May 2015


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kita semua mungkin sudah banyak mendengar cerita-cerita yang menyeramkan tentang HIV/AIDS. Penyebrangan AIDS itu berlangsung secara cepat dan mungkin sekrang sudah ada disekitar kita. Sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan AIDS, bahkan penyakit yang saat ini belum bisa dicegah dengan vaksin. Tapi kita semua tidak perlu takut. Jika kita berprilaku sehat dan bertanggung jawab serta senantiasa memegang teguh ajaran agama, maka kita akan terbebas dari HIV/AIDS.

B. Tujuan
Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.
Secara terperinci tujuan dari penelitian dan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui penyebab AIDS serta bahaya yang ditimbulkan.
2. Mengetahui cara pencegahan HIV / AIDS.

C Metode Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan penulis mempergunakan metode observasi dan kepustakaan. Adapun teknik-teknik yang dipergunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Teknik Wawancara
Tujuan dari teknik wawancara ini adalah agar diperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kasus yang dibahas. Repondennya meliputi beberapa kaum pendidik yang penulis anggap cukup mengerti tentang masalah ini.

2. Studi Pustaka
Pada metode ini, penulis membaca buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan penulisan makalah ini.

3. Internet
Pada metode ini penulis, juga mencari materi yang berhubungan dengan penulisan ini di internet





BAB II
KAJIAN TEORI

HIV (Human Immunodeficiency Virus)
Klasifikasi Virus :

Kelompok: Kelompok VI (ssRNA-RT)
Familia: Retroviridae
Genus: Lentivirus
Spesies: Human immunodeficiency virus 1
Spesies: Human immunodeficiency virus 2


HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ Sel T dan macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.

Perkenalan

Istilah HIV telah digunakan sejak 1986 (Coffin et al., 1986) sebagai nama untuk retrovirus yang diusulkan pertama kali sebagai penyebab AIDS oleh Luc Montagnier dari Perancis, yang awalnya menamakannya LAV (lymphadenopathy-associated virus) (Barre-Sinoussi et al., 1983) dan oleh Robert Gallo dari Amerika Serikat, yang awalnya menamakannya HTLV-III (human T lymphotropic virus type III) (Popovic et al., 1984).



HIV adalah anggota dari genus lentivirus [1], bagian dari keluarga retroviridae [2] yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih "virulent" dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di Afrika barat dan tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis.

HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte (Gao et al., 1999).HIV-2 melompat spesies dari sebuah strain SIV yang berbeda, ditemukan dalam sooty mangabeys, monyet dunia lama Guinea-Bissau (Reeves and Doms, 2002).

HIV-1 memiliki 3 kelompok atau grup yang telah berhasil diidentifikasi berdasarkan perbedaan pada envelope-nya yaitu M, N, dan O (Thomson dkk, 2002). Kelompok M yang paling besar prevalensinya dan dibagi kedalam 8 subtipe berdasarkan seluruh genomnya, yang masing-masing berbeda secara geografis (Carr dkk, 1998). Subtipe yang paling besar prevalensinya adalah subtipe B (banyak ditemukan di Afrika dan Asia), subtipe A dan D (banyak ditemukan di Afrika), dan C (banyak ditemukan di Afrika dan Asia); subtipe-subtipe ini merupakan bagian dari kelompok M dari HIV-1. Ko-infeksi dengan subtipe yang berrbeda meningkatkan sirkulasi bentuk rekombinan (CRFs)

Penularan

HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. UNAIDS transmission. Penggunaan pelindung fisik seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks. Belakangan ini, diusulkan bahwa penyunatan dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV [3], tetapi banyak ahli percaya bahwa hal ini masih terlalu awal untuk merekomendasikan penyunatan lelaki dalam rangka mencegah HIV [4].

Pada akhir tahun 2004 diperkirakan antara 36 hingga 44 juta orang yang hidup dengan HIV, 25 juta di antaranya adalah penduduk sub-Sahara Afrika. Perkiraan jumlah orang yang terinfeksi HIV di seluruh dunia pada tahun 2004 adalah antara 4,3 juta hingga 6,4 juta orang. (AIDS epidemic update December 2004).

Wabah ini tidak merata di wilayah-wilayan tertentu karena ada negara-negara yang lebih menderita daripada yang lainnya. Bahkan pada tingkatan negara pun ada perbedaan tingkatan infeksinya pada daerah-daerah yang berlainan. Jumlah orang yang hidup dengan HIV terus meningkat di semua bagian dunia, meskipun telah dilakukan berbagai langkah pencegahan yang ketat.

Sub-Sahara Afrika tetap merupakan daerah yang paling parah terkena HIV di antara kaum perempuan hamil pada usia 15-24 tahun di sejumlah negara di sana. Ini diduga disebabkan oleh banyaknya penyakit kelamin, praktek menoreh tubuh, transfusi darah, dan buruknya tingkat kesehatan dan gizi di sana (Bentwich et al., 1995). Pada tahun 2000, WHO memperkirakan bahwa 25% unit darah yang ditransfusikan di Afrika tidak dites untuk HIV, dan bahwa 10% infeksi HIV di benua itu terjadi lewat darah. [5].

Di Asia, wabah HIV terutama disebabkan oleh para pengguna obat bius lewat jarum suntik, hubungan seks baik antarpria maupun dengan pekerja seks komersial, dan pelanggannya, serta pasangan seks mereka. Pencegahannya masih kurang memadai.

Struktur



HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical"
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

Pita Merah terlipat adalah simbol solidaritas orang-orang yang positif terinfeksi virus HIV dan AIDS.

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Gejala dan komplikasi



Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.[7] HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga beresiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan.[8][9] Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.

Penyakit paru-paru utama

Foto sinar-X pneumonia pada paru-paru,
disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii.

Pneumonia pneumocystis (PCP)[10] jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV.

Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negara-negara berkembang, penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL.[11]

Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini.

Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat.[12] Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.

Penyakit saluran pencernaan utama

Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka.[13]

Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).

Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV.[14]

Penyakit syaraf dan kejiwaan utama

Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru.[15] Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.

Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis.[16]

Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin.[17] Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%,[18] namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV.[19][20] Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India.

Kanker dan tumor ganas (malignan)



Sarkoma Kaposi

Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV).[21][22]

Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru.

Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt's-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi.

Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia.

Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV.[23]

Infeksi oportunistik lainnya

Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara.[24]

Penyebab




HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.

AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofag, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan.[25] Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih beresiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

Penularan seksual

Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih beresiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan resiko hubungan seks anal lebih besar daripada resiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak beresiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif.[34] Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV.[35]

Penyakit menular seksual meningkatkan resiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofag) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar resiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofag.[36]

Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV.[36][37] Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual.[38][39] Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.

Kontaminasi patogen melalui darah



Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan
bahaya AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba.

Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan resiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi resiko itu.[40] Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman.[41] Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan.[42]

Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi".[43]

Penularan masa perinatal

Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%.[44] Sejumlah faktor dapat memengaruhi resiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi resikonya). Menyusui meningkatkan resiko penularan sebesar 4%.[45]

Diagnosis

Sejak tanggal 5 Juni 1981, banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, seperti definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994. Namun demikian, kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, karena definisi yang digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat.

Sistem tahapan infeksi WHO



Grafik hubungan antara jumlah HIV dan jumlah CD4+ pada rata-rata infeksi HIV yang tidak ditangani. Keadaan penyakit dapat bervariasi tiap orang.
                     jumlah limfosit T CD4+ (sel/mm³)
                     jumlah RNA HIV per mL plasma

Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1.[46] Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat.
Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernafasan atas yang berulang
Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.
Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

Sistem klasifikasi CDC

Terdapat dua definisi tentang AIDS, yang keduanya dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Awalnya CDC tidak memiliki nama resmi untuk penyakit ini; sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya, contohnya ialah limfadenopati. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus tersebut.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan September tahun 1982, dan mendefinisikan penyakit ini.[49] Tahun 1993, CDC memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh limfositnya sebagai pengidap positif HIV.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara maju menggunakan kedua definisi tersebut, baik definisi CDC terakhir maupun pra-1993. Diagnosis terhadap AIDS tetap dipertahankan, walaupun jumlah sel T CD4+ meningkat di atas 200 per µL darah setelah perawatan ataupun penyakit-penyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh.

Tes HIV

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV.[51] Kurang dari 1% penduduk perkotaan di Afrika yang aktif secara seksual telah menjalani tes HIV, dan persentasenya bahkan lebih sedikit lagi di pedesaan. Selain itu, hanya 0,5% wanita mengandung di perkotaan yang mendatangi fasilitas kesehatan umum memperoleh bimbingan tentang AIDS, menjalani pemeriksaan, atau menerima hasil tes mereka. Angka ini bahkan lebih kecil lagi di fasilitas kesehatan umum pedesaan.[51] Dengan demikian, darah dari para pendonor dan produk darah yang digunakan untuk pengobatan dan penelitian medis, harus selalu diperiksa kontaminasi HIV-nya.

Tes HIV umum, termasuk imunoasai enzim HIV dan pengujian Western blot, dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum, plasma, cairan mulut, darah kering, atau urin pasien. Namun demikian, periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan hasil positif tes. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya, HIV-RNA, dan HIV-DNA, yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. Meskipun metode-metode tersebut tidak disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV, tetapi telah digunakan secara rutin di negara-negara maju.

Pencegahan

Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian resiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.[59]

Hubungan seksual

Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antarindividu yang salah satunya terkena HIV. Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia.[60] Selama hubungan seksual, hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. Bukti terbaik saat ini menunjukan bahwa penggunaan kondom yang lazim mengurangi resiko penularan HIV sampai kira-kira 80% dalam jangka panjang, walaupun manfaat ini lebih besar jika kondom digunakan dengan benar dalam setiap kesempatan.[61] Kondom laki-laki berbahan lateks, jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak, adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi transmisi HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. Pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin, mentega, dan lemak babi tidak digunakan dengan kondom lateks karena bahan-bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang. Jika diperlukan, pihak produsen menyarankan menggunakan pelumas berbahan dasar air. Pelumas berbahan dasar minyak digunakan dengan kondom poliuretan.[62]

Kondom wanita adalah alternatif selain kondom laki-laki dan terbuat dari poliuretan, yang memungkinkannya untuk digunakan dengan pelumas berbahan dasar minyak. Kondom wanita lebih besar daripada kondom laki-laki dan memiliki sebuah ujung terbuka keras berbentuk cincin, dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina. Kondom wanita memiliki cincin bagian dalam yang membuat kondom tetap di dalam vagina — untuk memasukkan kondom wanita, cincin ini harus ditekan. Kendalanya ialah bahwa kini kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sejumlah besar wanita. Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan tersedianya kondom wanita, hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga kondom wanita merupakan strategi pencegahan HIV yang penting.[63]

Penelitian terhadap pasangan yang salah satunya terinfeksi menunjukkan bahwa dengan penggunaan kondom yang konsisten, laju infeksi HIV terhadap pasangan yang belum terinfeksi adalah di bawah 1% per tahun.[64] Strategi pencegahan telah dikenal dengan baik di negara-negara maju. Namun, penelitian atas perilaku dan epidemiologis di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan keberadaan kelompok minoritas anak muda yang tetap melakukan kegiatan beresiko tinggi meskipun telah mengetahui tentang HIV/AIDS, sehingga mengabaikan resiko yang mereka hadapi atas infeksi HIV.[65] Namun demikian, transmisi HIV antarpengguna narkoba telah menurun, dan transmisi HIV oleh transfusi darah menjadi cukup langka di negara-negara maju.

Pada bulan Desember tahun 2006, penelitian yang menggunakan uji acak terkendali mengkonfirmasi bahwa sunat laki-laki menurunkan resiko infeksi HIV pada pria heteroseksual Afrika sampai sekitar 50%. Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah, walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan, budaya, dan perilaku masyarakat. Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa persepsi kurangnya kerentanan HIV pada laki-laki bersunat, dapat meningkatkan perilaku seksual beresiko sehingga mengurangi dampak dari usaha pencegahan ini.[66]

Pemerintah Amerika Serikat dan berbagai organisasi kesehatan menganjurkan Pendekatan ABC untuk menurunkan resiko terkena HIV melalui hubungan seksual.[67] Adapun rumusannya dalam bahasa Indonesia:[68]“

Anda jauhi seks,
Bersikap saling setia dengan pasangan,
Cegah dengan kondom.

Kontaminasi cairan tubuh terinfeksi



Pekerja kedokteran yang mengikuti kewaspadaan universal, seperti mengenakan sarung tangan lateks ketika menyuntik dan selalu mencuci tangan, dapat membantu mencegah infeksi HIV.

Semua organisasi pencegahan AIDS menyarankan pengguna narkoba untuk tidak berbagi jarum dan bahan lainnya yang diperlukan untuk mempersiapkan dan mengambil narkoba (termasuk alat suntik, kapas bola, sendok, air pengencer obat, sedotan, dan lain-lain). Orang perlu menggunakan jarum yang baru dan disterilisasi untuk tiap suntikan. Informasi tentang membersihkan jarum menggunakan pemutih disediakan oleh fasilitas kesehatan dan program penukaran jarum. Di sejumlah negara maju, jarum bersih terdapat gratis di sejumlah kota, di penukaran jarum atau tempat penyuntikan yang aman. Banyak negara telah melegalkan kepemilikan jarum dan mengijinkan pembelian perlengkapan penyuntikan dari apotek tanpa perlu resep dokter.

Penularan dari ibu ke anak

Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretrovirus, bedah caesar, dan pemberian makanan formula mengurangi peluang penularan HIV dari ibu ke anak (mother-to-child transmission, MTCT).[69] Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima, dapat dikerjakan dengan mudah, terjangkau, berkelanjutan, dan aman, ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak mereka. Namun demikian, jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi, pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin.[5] Pada tahun 2005, sekitar 700.000 anak di bawah umur 15 tahun terkena HIV, terutama melalui penularan ibu ke anak; 630.000 infeksi di antaranya terjadi di Afrika.[70] Dari semua anak yang diduga kini hidup dengan HIV, 2 juta anak (hampir 90%) tinggal di Afrika Sub Sahara.[5]

Penanganan



Abacavir – Nucleoside analog
reverse transcriptase inhibitor (NARTI atau NRTI)

Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP).[40] PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual, dan lelah.[71]

Terapi antivirus



Struktur kimia Abacavir

Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART).[72] Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996, yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor.[6] Pilihan terbaik HAART saat ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") bahan antiretrovirus. Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa.[73] Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien, saat memilih waktu memulai perawatan awal.[74]

Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan.[75][76] Lagi pula, dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART.[77] Meskipun demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) karena HIV.[78][79][80] Tanpa perawatan HAART, berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan sampai sepuluh tahun, dan selanjutnya waktu bertahan setelah terjangkit AIDS hanyalah 9.2 bulan.[25] Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 sampai 12 tahun.[81][82] Bagi beberapa pasien lainnya, yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART memberikan hasil jauh dari optimal. Hal ini karena adanya efek samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART.[83] Terdapat bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah kurangnya akses atas fasilitas kesehatan, kurangnya dukungan sosial, penyakit kejiwaan, serta penyalahgunaan obat. Perawatan HAART juga kompleks, karena adanya beragam kombinasi jumlah pil, frekuensi dosis, pembatasan makan, dan lain-lain yang harus dijalankan secara rutin .[84][85][86] Berbagai efek samping yang juga menimbulkan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART, antara lain lipodistrofi, dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan resiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.[87][88]

Obat anti-retrovirus berharga mahal, dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.[89]


Penanganan eksperimental dan saran

Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian.[89] Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin.[89]

Beragam penelitian untuk meningkatkan perawatan termasuk usaha mengurangi efek samping obat, penyederhanaan kombinasi obat-obatan untuk memudahkan pemakaian, dan penentuan urutan kombinasi pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat. Beberapa penelitian menunjukan bahwa langkah-langkah pencegahan infeksi oportunistik dapat menjadi bermanfaat ketika menangani pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. Vaksinasi atas hepatitis A dan B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam beresiko terinfeksi.[90] Pasien yang mengalami penekanan daya tahan tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan (propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis, demikian juga pasien toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut.[71]

Pengobatan alternatif

Berbagai bentuk pengobatan alternatif digunakan untuk menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit.[91] Akupuntur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala, misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki kram, kesemutan atau nyeri; namun tidak menyembuhkan infeksi HIV.[92] Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini, tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif yang serius.[93]

Beberapa data memperlihatkan bahwa suplemen multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa, meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat kematian (mortalitas) akan berkurang pada orang-orang yang memiliki status nutrisi yang baik.[94] Suplemen vitamin A pada anak-anak kemungkinan juga memiliki beberapa manfaat.[94] Pemakaian selenium dengan dosis rutin harian dapat menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan pada jumlah CD4. Selenium dapat digunakan sebagai terapi pendamping terhadap berbagai penanganan antivirus yang standar, tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas.[95]

Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa terapi pengobatan alteratif memiliki hanya sedikit efek terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini, namun dapat meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS. Manfaat-manfaat psikologis dari beragam terapi alternatif tersebut sesungguhnya adalah manfaat paling penting dari pemakaiannya.[96]

Epidemiologi



Meratanya HIV diantara orang dewasa per negara pada akhir tahun 2005.
██ 15–50%
██ 5–15%
██ 1–5%
██ 0.5–1.0%
██ 0.1–0.5%
██ <0.1%
██ tidak ada data

UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak.[5] Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV.[5] Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.[5]

Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi, dengan perkiraan 21,6 sampai 27,4 juta jiwa kini hidup dengan HIV. Dua juta [1,5&-3,0 juta] dari mereka adalah anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun. Lebih dari 64% dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat (76%) dari semua wanita hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12.0 juta [10.6-13.6 juta] a  nak yatim/piatu AIDS hidup di Afrika Sub Sahara.[5] Asia Selatan dan Asia Tenggara adalah terburuk kedua yang terinfeksi dengan besar 15%. 500.000 anak-anak mati di region ini karena AIDS. Dua-tiga infeksi HIV/AIDS di Asia muncul di India, dengawn perkiraan 5.7 juta infeksi (perkiraan 3.4 - 9.4 juta) (0.9% dari populasi), melewati perkiraan di Afrika Selatan yang sebesar 5.5 juta (4.9-6.1 juta) (11.9% dari populasi) infeksi, membuat negara ini dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia.[97] Di 35 negara di Afrika dengan perataan terbesar, harapan hidup normal sebesar 48.3 tahun - 6.5 tahun sedikit daripada akan menjadi tanpa penyakit.[98]




Sejarah

AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.[99]

Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat.[100] Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan.[101] HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.

Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging.[102] Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio.[103][104] Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.[105][106][107]

Sosial dan budaya

Stigma



Ryan White sebagai model poster HIV.
Ia dikeluarkan dari sekolah dengan alasan terinfeksi HIV.

Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV; diwajibkannya uji coba HIV tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu atau perlindungan kerahasiaannya; dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV.[108] Kekerasan atau ketakutan atas kekerasan, telah mencegah banyak orang untuk melakukan tes HIV, memeriksa bagaimana hasil tes mereka, atau berusaha untuk memperoleh perawatan; sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis yang dapat dikendalikan menjadi "hukuman mati" dan menjadikan meluasnya penyebaran HIV.[109]

Stigma AIDS lebih jauh dapat dibagi menjadi tiga kategori:
Stigma instrumental AIDS - yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular.[110]
Stigma simbolis AIDS - yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan sikap terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan dengan penyakit tersebut.[110]
Stigma kesopanan AIDS - yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.[111]

Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma, terutama yang berhubungan dengan homoseksualitas, biseksualitas, pelacuran, dan penggunaan narkoba melalui suntikan.

Di banyak negara maju, terdapat penghubungan antara AIDS dengan homoseksualitas atau biseksualitas, yang berkorelasi dengan tingkat prasangka seksual yang lebih tinggi, misalnya sikap-sikap anti homoseksual.[112] Demikian pula terdapat anggapan adanya hubungan antara AIDS dengan hubungan seksual antar laki-laki, termasuk bila hubungan terjadi antara pasangan yang belum terinfeksi.[110]

Dampak ekonomi

HIV dan AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan menghancurkan jumlah manusia dengan kemampuan produksi (human capital).[5] Tanpa nutrisi yang baik, fasilitas kesehatan dan obat yang ada di negara-negara berkembang, orang di negara-negara tersebut menjadi korban AIDS. Mereka tidak hanya tidak dapat bekerja, tetapi juga akan membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai. Ramalan bahwa hal ini akan menyebabkan runtuhnya ekonomi dan hubungan di daerah. Di daerah yang terinfeksi berat, epidemik telah meninggalkan banyak anak yatim piatu yang dirawat oleh kakek dan neneknya yang telah tua.[113]

Semakin tingginya tingkat kematian (mortalitas) di suatu daerah akan menyebabkan mengecilnya populasi pekerja dan mereka yang berketerampilan. Para pekerja yang lebih sedikit ini akan didominasi anak muda, dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang lebih sedikit sehingga produktivitas akan berkurang. Meningkatnya cuti pekerja untuk melihat anggota keluarga yang sakit atau cuti karena sakit juga akan mengurangi produktivitas. Mortalitas yang meningkat juga akan melemahkan mekanisme menghasilkan human capital dan investasi pada masyarakat, yaitu karena hilangnya pendapatan dan meninggalnya para orang tua. Karena AIDS menyebabkan meninggalnya banyak orang dewasa muda, ia melemahkan populasi pembayar pajak, mengurangi dana publik seperti pendidikan dan fasilitas kesehatan lain yang tidak berhubungan dengan AIDS. Ini memberikan tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan semakin terasakan bila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit, pelatihan (untuk menggantikan pekerja yang sakit), penggantian biaya sakit, serta perawatan yatim piatu korban AIDS. Hal ini terutama mungkin sekali terjadi jika peningkatan tajam mortalitas orang dewasa menyebabkan berpindahnya tanggung-jawab dan penyalahan, dari keluarga kepada pemerintah, untuk menangani para anak yatim piatu tersebut.[113]

Pada tingkat rumah tangga, AIDS menyebabkan hilangnya pendapatan dan meningkatkan pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. Berkurangnya pendapatan menyebabkan berkurangnya pengeluaran, dan terdapat juga efek pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan. Penelitian di Pantai Gading menunjukkan bahwa rumah tanggal dengan pasien HIV/AIDS mengeluarkan biaya dua kali lebih banyak untuk perawatan medis daripada untuk pengeluaran rumah tangga lainnya.[114]

Penyangkalan atas AIDS

Sekelompok kecil aktivis, diantaranya termasuk beberapa ilmuwan yang tidak meneliti AIDS, mempertanyakan tentang adanya hubungan antara HIV dan AIDS,[115] keberadaan HIV itu sendiri,[116] serta kebenaran atas percobaan dan metode perawatan yang digunakan untuk menanganinya. Klaim mereka telah diperiksa dan secara luas ditolak oleh komunitas ilmiah,[117] walaupun terus saja disebarkan melalui internet dan sempat memiliki pengaruh politik di Afrika Selatan melalui mantan presiden Thabo Mbeki, yang menyebabkan pemerintahnya disalahkan atas respon yang tidak efektif terhadap epidemik AIDS di negara tersebut.[118][119][120]





BAB III
RUMUSAN MASALAH

Dari Ekonomi HIV dan AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan menghancurkan jumlah manusia dengan kemampuan produksi (human capital).[5] Tanpa nutrisi yang baik, fasilitas kesehatan dan obat yang ada di negara-negara berkembang, orang di negara-negara tersebut menjadi korban AIDS. Mereka tidak hanya tidak dapat bekerja, tetapi juga akan membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai. Ramalan bahwa hal ini akan menyebabkan runtuhnya ekonomi dan hubungan di daerah. Di daerah yang terinfeksi berat, epidemik telah meninggalkan banyak anak yatim piatu yang dirawat oleh kakek dan neneknya yang telah tua.[113]

Semakin tingginya tingkat kematian (mortalitas) di suatu daerah akan menyebabkan mengecilnya populasi pekerja dan mereka yang berketerampilan. Para pekerja yang lebih sedikit ini akan didominasi anak muda, dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang lebih sedikit sehingga produktivitas akan berkurang. Meningkatnya cuti pekerja untuk melihat anggota keluarga yang sakit atau cuti karena sakit juga akan mengurangi produktivitas. Mortalitas yang meningkat juga akan melemahkan mekanisme menghasilkan human capital dan investasi pada masyarakat, yaitu karena hilangnya pendapatan dan meninggalnya para orang tua. Karena AIDS menyebabkan meninggalnya banyak orang dewasa muda, ia melemahkan populasi pembayar pajak, mengurangi dana publik seperti pendidikan dan fasilitas kesehatan lain yang tidak berhubungan dengan AIDS. Ini memberikan tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan semakin terasakan bila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit, pelatihan (untuk menggantikan pekerja yang sakit), penggantian biaya sakit, serta perawatan yatim piatu korban AIDS. Hal ini terutama mungkin sekali terjadi jika peningkatan tajam mortalitas orang dewasa menyebabkan berpindahnya tanggung-jawab dan penyalahan, dari keluarga kepada pemerintah, untuk menangani para anak yatim piatu tersebut.[113]

Pada tingkat rumah tangga, AIDS menyebabkan hilangnya pendapatan dan meningkatkan pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. Berkurangnya pendapatan menyebabkan berkurangnya pengeluaran, dan terdapat juga efek pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan. Penelitian di Pantai Gading menunjukkan bahwa rumah tanggal dengan pasien HIV/AIDS mengeluarkan biaya dua kali lebih banyak untuk perawatan medis daripada untuk pengeluaran rumah tangga lainnya.[114]



BAB IV
PEMBAHASAN
HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ Sel T dan macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).







BAB V

PENUTUP

KESIMPULAN

Generasi muda adalah generasi yang baru saja menginjakkan kakinya di dunia dewasa. Pada umumnya mereka masih mencari jati diri sebagai manusia yang ingin dianggap dewasa. Sehingga setiap langkah yang diambil pada umumnya cenderung mencoba – coba karena sifat keingintahuan manusia terhadap hal – hal yang dianggap baru. Jika ternyata langkah yang mereka ambil salah tentunya akan berakibat sangat fatal.

Hal-hal tersebut adalah masa-masa rawan yang merupakan langkah awal yang sangat harus diwaspadai oleh generasi muda. Generasi muda juga sangat mudah terbujuk oleh hasutan orang-orang di sekitarnya. Selain itu generasi muda adalah masa di mana persahabatan adalah segalanya, dan melakukan sesuatu bersama, jadi apabila salah satu dari mereka ada yang memakai narkoba maka teman lainnya akan penasaran dan akhirnya mereka mencoba juga. Dimana narkoba sangatlah dekat kaitanya dengan miras, rokok, dan seks bebas yang menyebabkan HIV/AIDS .

Pada umumnya pengguna narkoba dengan jarum suntik adalah jenis ketergantungan yang paling banyak digunakan oleh kaum muda. Dan cara ini pulalah yang paling rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS, sehingga banyak tunas – tunas bangsa yang layu sebelum berkembang dan akhirnya memudarkan harapan untuk menjadi penerus bangsa.

SARAN
Seperti yang telah penulis uraikan pada bab sebelumnya bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang berbahaya karena virus tersebut menyerang sistim kekebalan tubuh kita dalam melaan segala penyakit. Untuk menghindari hal tersebut dapat penulis sarankan hal – hal sebagai berikut :

1. Bagi yang belum terinfeksi virus HIV/AIDS sebaiknya :

a). Belajar agar dapat mengendalikan diri;
b). Memiliki prinsip hidup yang kuat untuk berkata “TIDAK” terhadap segala jenis yang mengarah kepada narkoba dan psikotropika lainnya;
c). Membentengi diri dengan agama;
d). Menjaga keharmonisan keluarga karena pergaulan bebas sering kali menjadi pelarian bagi anak – anak yang depresi.

2. Bagi penderita HIV/AIDS sebaiknya :

a). Memberdayakan diri terhadap HIV/AIDS;
b). Mencoba untuk hidup lebih lama;
c). Mau berbaur dengan orang disekitarnya/lingkungan;
d). Tabah dan terus berdoa untuk memohon kesembuhan.

3. Bagi keluarga penderita HIV/AIDS sebaiknya :

a). Memotivasi penderita untuk terbiasa hidup dengan HIV/AIDS sehingga bisa melakukan pola hidup sehat;
b). Memotivasi penderita HIV/AIDS untuk mau beraktivitas dalam meneruskan hidup yang lebih baik.

AIDS adalah penyakit berbahaya yang sampai saat ini belum di temukan obatnya. Penyakit AIDS di sebabkan oleh jarum suntik dan seks bebas yang di sebabkan oleh pergaulan bebas.
Jadi apa bila kita ingin aman dari AIDS kita sebaiknya :
Ø Belajar agar dapat mengendalikan diri
Ø Memiliki prinsip hidup yang kuat
Ø Membentengi diri dengan agama
Ø Dan menjaga keharmonisan keluarga Karena pergaulan bebas sering kali menjadi pelarian anak-anak yang depresi

Dan bagi penderita HIV/AIDS sebaiknya :
Ø Memberdayakan diri terhadap AIDS
Ø Mencoba untuk hidup lebih lama
Ø Berbaur dengan orang disekitar
Ø Tabah dan terus berdoa


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Hidrokel ialah terkumpulnya cairan diantara lapisan visceral dan parietal tunika vaginalis. Hidrokel paling sering terjadi pada anak laki-laki dan kejadiannya adalah 10-20: 1000 kelahiran hidup. Salah satu hidrokel yang sering terjadi adalah hidrokel congenital yang terjadi karena adanya hubungan terbuka antara rongga abdomen sehingga cairan dari rongga abdomen keluar dan terkumpul diantara lapisan parietal dan lapisan visceral tunika vaginalis. Seringkali seorang ibu datang ke pelayanan kesehatan untuk memerikasakan anaknya karena terjadi keabnormalan yaitu adanya pembesaran skrotum pada genetalia anaknya. Hidrokel testis merupakan kelainan congenital yang terjadi sejak lahir dimana anak mengalami pembesaran skrotum yang abnormal atau tidak sesuai dengan pertambahan usianya. Terapi yang paling tepat adalah dengan operasi pembedahan.
Selama hospitalisasi baik anak maupun keluarga biasanya merasa cemas dan kuatir pada penatalaksanaan terapi yang harus dijalani dan kemungkinan tentang prognosis anaknya. Bahkan seringkali hospitalisasi merupakan stressor tersendiri pada anak dan keluarga. Di sinilah diperlukan peranan perawat untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang dapat memperburuk keadaan anak serta agar anak tidak mengalami trauma karena pernah dirawat di rumah sakit. Dalam hal ini diperlukan kerjasama diantara perawat, keluarga dan tim kesehatan yang  lain untuk mencapai kesembuhan bagi anak.
Dari uraian di atas maka kami tertarik untuk mengambil kasus ini dengan judul “ Asuhan Keperawatan pada An. H dengan Pre Operasi Hidrokel Testis di Ruang 15 RSSA Malang.”



  1. Batasan Masalah
Dalam penulisan makalah ini kami membatasi pembahasan masalah pada klien dengan pre operasi hidrokel testis pada tanggal 3-5 Juni 2004 di ruang 15 RSSA Malang.

  1. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.    Tujuan Umum
Mahasiswa mampu belajar bagaimana melakukan dan menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan hidrokel testis.
2.    Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan pre     operasi hidrokel testis, mahasiswa mampu untuk:
a.    Mengetahui gambaran konkrit klien dengan pre operasi hidrokel testis.
b.   Melakukan pengkajian pada klien dengan pre operasi hidrokel testis.
c.    Merumuskan diagnosa dan intervensi keperawatan pada klien dengan pre operasi hidrokel testis.
d.   Melakukan implementasi pada klien dengan pre operasi hidrokel testis.
e.    Melakukan evaluasi keperawatan berdasarkan kriteria standar





BAB II
TINJAUAN TEORI

A.  DEFINISI
Hidrokel ialah terkumpulnya cairan di antara lapisan viseral dan parietal tunika vaginalis. Cairan tersebut dapat berupa cairan yang berasal dari rongga abdomen atau cairan hasil produksi dari membran yang berada pada lapisan antara viseral dan parietal dari tunika vaginalis yang berwarna jernih dan berupa cairan transudat.
Dalam artian lain, hidrokel ialah kegagalan obliterasi prosessus vaginalis  bagian proximal dan bagian distal yang mengalami patensi. Hidrokel testis ialah hidrokel dengan tunika vaginalis yang berinsersi di tempat yang sangat tinggi di testis sehingga testis dan epididimis yang semula berada pada daerah ventral kemudian terdorong ke daerah dorsal oleh ruang tunika vaginalis yang membesar.

C. KLASIFIKASI
Hidrokel testis dibagi menjadi
1. Konginetal
a. Hidrokel Komunikans
ialah hidrokel yang terjadi karena adnya hubungan terbuka antara rongga abdomen dan  kantong kemaluan sehingga cairan dalam rongga abdomen keluar dan terkumpul dalam lapisan antara parietal viseral tunika vaginalis.
b. Hidrokel Non Komunikans
ialah hidrokel yang terjadi karena adanya sejumlah cairan yang terjebak dalam tunika vaginalis sesaat sebelum menutupnya prosessus vaginalis.
2. Non Konginetal
ialah hidrokel yang terjadi karena disesbabkan oleh obstruksi yang mengganggu proses penyerapan cairan transudat membran oleh saluran limfatik sehingga terdapat akumulasi cairan transudat pada lapisan antara parietal dan viseral tunika vaginalis.

D. ETIOLOGI
1. Konginetal
2. Non Konginetal
3. Obstruksi saluran limfatik oleh infeksi filaria yang menyebabkan penyakit kaki gajah
4. Penyebaran atau ekstensi lokal dari kanker prostat dan buli-buli pada golongan lansia
5. Peningkatan produksi cairan transudat membran yang terjadi secara abnormal, biasanya terjadi karena :
a. Kerusakan testis
b. Infeksi spesifik
c. Infeksi nonspesifik
d. Trauma epididimis
e. Radang dan kanker testis
f. Terapi penyinaran

E. TANDA DAN GEJALA
1. Skrotum
a. Skrotum tampak lebih besar dari yang lain
b. Adanya fluktuasi cairan pada skrotum yang berhidrokel
c. Konsistensi skrotum yang kenyal atau lunak, tergantung dari tegangan pada hidrokel
2. Hidrokel
a. Pada palpasi terasa seperti balon yang terisi air
b. Testis akan lebih mudah teraba jika jumlah cairan minimum dan sebaliknya
3. Pemeriksaan Laboratorium
Adanya penerusan cahaya oleh hidrokel pada pemeriksaan transiluminasi , karena :
a. Hidrokel bersifat diaphan (meneruskan cahaya)
b. Hidrokel berisi cairan jernih , straw-colored.

F. TERAPI DAN PENATALAKSANAAN
1. Jenis hidrokel testis konginetal non komunikans  tidak memerlukan penatalaksanaan yang khusus, karena hidrokel akan diserap dalam kurun waktu satu tahun, jika dalam satu tahun pembesaran skrotum masih ada, maka hal tersebut dimungkinkan bukan hidrokel tetapi melainkan hernia inguinalis total. Pada keadaan ini, operasi dan aspirasi pada hidrokel tidak diindikasikan.
2.  Jenis hidrokel testis konginetal komunikans memerlukan terapi operasi penutupan  kantong hernia, karena hidrokel jenis ini pada umumnya disertai dengan gejala hernia ingunalis tak langsung, dan biasanya “ lubang kantong “ hernia ingunalis tak langsung tidak dapat menutup sendiri secara sempurna.


G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a.    Identitas anak, meliputi nama, usia, alamat, nomer telepon, tempat dan tanggal lahir, tingkat pendidikan dan sumber pendukung lain.
b.   Keluhan utama.
c.    Riwayat penyakit sekarang, digunakan untuk menentukan prioritas utama riwayat penyakit, kapan dan bagaimana terjadinya proses penyakit.
d.   Riwayat kehamilan ibu, kelahiran dan setelah kelahiran.
e.    Riwayat kesehatan yang lalu, meliputi penyakit anak yang sering dialami, imunisasi, hospitalisasi sebelumnya, kecelakaan atau injury, alergi dan pengobatan.
f.    Riwayat kesehatan keluarga, adakah anggota keluarga yang menderita kelainan seperti yang dialami oleh klien atau penyakit menular maupun penyakit keturunan.
g.   Riwayat sosial, dimana anak pada tahap tumbuh kembang akan terpengaruh emosionalnya dan merupakan stressor tersendiri bagi anak yang mengalami perubahan lingkungan dari rumah ke rumah sakit.
h.   Pola aktivitas sehari-hari, meliputi pola makan dan minum, pola kebersihan, pola tidur dan istirahat, pola aktivitas dan bermain serta pola eliminasi.
i.     Pengkajian fisik, meliputi keadaan umum anak, tanda-tanda vital, pemeriksaan kepala, mata hidung, telinga, mulut, leher, pemeriksaan dada atau thorax, pemeriksaan abdomen, genetalia.
Pada pemeriksaan genetalia, didapatkan adanya pembesaran pada skrotum akibat adanya penumpukan cairan. Kaji kesimetrisan skrotum dan testis. Pada sistem perkemihan, kaji pola berkemih, frekuensi berkemih, apakah anak menangis saat berkemih.
Lakukan juga pengkajian pada sistem muskuloskeletal, pemeriksaan integumen. Pada hidrokel testis yang pembengkakannya sangat besar, maka integumen di lokasi hidrokel menjadi tegang, tipis dan oedem.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan utama yang muncul pada klien dengan hidrokel testis pre operasi adalah :
a.       Gangguan psikologis cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses patologi terjadinya penyakit.
b.      Gangguan konsep diri citra tubuh berhubungan dengan pembesaran skrotum.
c.       Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan akumulasi hidrokel sebagai media perkembangan kuman dan bakteri.
d.      Resiko terjadi perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan disfungsi organ yang mengalami penekanan oleh hidrokel.
e.       Resiko tinggi terjadinya injury ( cidera ) berhubungan dengan aktivitas berat dan berlebih.
f.       Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan proses terapi berhubungan dengan kurang adekuatnya informasi.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
  1. Gangguan psikologis cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses patologi terjadinya penyakit.
Tujuan :
Mengurangi kecemasan pada anak dan orang tua.
Intervensi :
    1. Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya pada anak dan orang tua.
R/ Menumbuhkan rasa saling percaya antara perawat, anak dan orang tua.
    1. Mengajak orang tua dan anak untuk berkomunikasi tentang keadaan anak.
R/ Mengetahui seberapa jauh tingkat pengetahuan orang tua dan anak tentang kelainan yang diderita.
    1. Observasi perilaku baik verbal maupun non verbal orang tua dan anak.
R/ Menentukan tingkat kecemasan orang tua dan anak.
    1. Berikan penjelasan tentang proses terjadinya penyakit, perawatan dan pengobatannya.
R/ Informasi yang adekuat akan membuat perasaan orang tua dan anak lebih nyaman dan tenang.
    1. Ikut sertakan orang tua untuk membantu perawatan pada anaknya.
R/ Orang tua adalah orang terdekat klien sehingga anak bisa menerima keadaannya dan merasa tenang.
    1. Berikan aktivitas bermain yang sesuai dengan kondisi dan usia anak.
R/ Kecemasan anak akan berkurang karena perhatiannya sudah beralih ke hal-hal yang lebih menyenangkan.
    1. Motivasi orang tua untuk segera mengoperasikan kelainan yang diderita oleh anak.
R/ Operasi adalah tindakan satu-satunya yang dapat mentrembuhkan kelainan pada anak.
  1. Gangguan konsep diri citra tubuh berhubungan dengan pembesaran skrotum.
Tujuan :
Meningkatkan konsep diri citra tubuh yang positif.
Intervensi :
1.      Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya.
R/ Menumbuhkan rasa saling percaya antara perawat dengan klien.
2.      Ajarkan pada anak untuk mengekspresikan perasaannya tentang pembesaran skrotum.
R/ Anak perlu untuk mengenali perasaan sebelum mereka dapat menerima keadaan dengan efektif.
3.      Libatkan anak dalam perawatan dirinya.
R/ Anak akan lebih menerima keadaan dirinya dan meningkatkan harga dirinya.
4.      Ajarkan pada anak untuk berinteraksi dengan orang lain.
R/ Membantu dalam menghadapi kesulitan berinteraksi dengan orang lain.
5.      Libatkan orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan.
R/ Orang tua adalah orang terdekat klien sehingga klien bisa menerima keadaan dan merasa tenang.
6.      Tenangkan anak dan orang tua dengan komunikasi terapeutik.
R/ Anak dan orang tua akan merasa lebih tenang dan dapat menerima keadaan.
  1. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan akumulasi hidrokel sebagai media perkembangan kuman dan bakteri.
Tujuan :
Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
1.      Kaji tanda-tanda infeksi.
R/ Memonitor adanya nyeri atau inflamasi.
2.      Monitor tanda-tanda vital ( TTV ).
R/ Mengetahui adanya peningkatan suhu dapat mengindikasikan terjadinya infeksi.
3.      Jelaskan tentang penyebab dan tanda-tanda infeksi.
R/ Mengetahui penyebab dan tanda infeksi sehingga dapat menghindari faktor terjadinya infeksi.
4.      Motivasi anak agar tidak menahan kencing.
R/ Kandung kemih yang penuh akan menjadi media berkembangnya penyebaran kuman.
5. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.
R/ Mencegah penyebaran kuman.
  1. Resiko terjadi perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan disfungsi organ yang mengalami penekanan oleh hidrokel.
Tujuan :
Mempertahankan keseimbangan masukan atau haluaran urine.
Intervensi :
1.      Kaji pola berkemih klien, seperti aliran urine, catat ukuran dan kekuatannya.
R/ Mengidentifikasi fungsi kandung kemih ( misal: pengosongan kandung kemih, fungsi ginjal, keseimbangan cairan ).
2.      Monitor dan catat waktu serta banyaknya urine.
R/ Mengetahui normalitas berkemih klien.
  1. Resiko tinggi terjadinya injury ( cidera ) berhubungan dengan aktivitas berat dan berlebih.
Tujuan :
Klien terhindar dari terjadinya injury ( cidera ) pada daerah sekitar hidrokel.
Intervensi :
1.      Memonitor aktivitas anak
R/ Mengetahui tingkat aktivitas anak
2.      Meminimalkan atau mengurangi aktivitas anak dengan memberikan mainan yang tidak membutuhkan aktivitas yang berat dan berlebih.
R/ Anak tidak akan melakukan aktivitas yang berat dan berlebihan
3.      Hindarkan klien dari benda-benda, tempat maupun aktivitas yang dapat membahayakan klien.
R/ Menghindarkan klien dari resiko terjadinya injury.
  1. Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan proses terapi berhubungan dengan kurang adekuatnya informasi.

Tujuan :
Meningkatkan pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan perawatannya.
Intervensi :
1.      Menjelaskan kepada anak dan orang tua mengenai penyakit yang diderita oleh anak.
R/ Informasi yang adekuat akan memberikan pengetahuan untuk anak dan orang tua tentang keadaan penyakit sebagai sesuatu yang dapat ditangani.
2.      Menjelaskan tentang tujuan tiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.
R/ Memberikan gambaran kepada anak atau orang tua tentang perawatan atau terapi, sehingga keluarga dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
3.      Anjurkan klien untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya sebelum dilakukan operasi.
R/ Persiapan fisik maupun mental sangat diperlukan untuk kelancaran tindakan operasi.
4.      Anjurkan orang tua untuk mengontrolkan anaknya setelah operasi dilakukan.
R/ Mengetahui perkembangan selanjutnya dan memberikan tindak lanjut untuk perawatannya.

4. EVALUASI                                                                                       
Setelah dilakukan implementasi yang sesuai dengan intervensi, maka diharapkan :
a.    Anak dan orang tua tidak mengalami kecemasan lagi.
b.   Anak tidak mengalami gangguan konsep diri citra tubuh ditandai dengan peningkatan konsep diri citra tubuh yang positif.
c.    Anak tidak akan mengalami infeksi pada sistem perkemihannya.
d.   Anak mampu mempertahankan keseimbangan masukan dan haluaran urine.
e.    Anak tidak akan mengalami cidera akibat aktivitasnya yang berlebihan.
f.    Anak dan orang tua mengerti tentang keadaan penyakit anaknya dan mengetahui perawatannya.
g.   Anak dan orang tua bisa menerima program penanganan dan menjalankan program anjuran dengan tepat.
h.   Anak dan orang tua paham tentang program terapi dan bersedia untuk melakukan perawatan tindak lanjut dan berkunjung ke dokter.







BAB III

TINJAUAN KASUS


A. IDENTITAS DATA
Nama                         : An. MH
Tanggal lahir              : 30 juli 2001
Umur                         : 2 thn 10 bln 9 hr
Nama  Ayah/Ibu        : Tn Harianto/Ny. Mudrikah
Pekerjaan Ayah         : Buruh tani
Pekerjaan Ibu             : Ibu Rumah tangga
Alamat                       : Jl. Masjid patok sukolilo
                                     Rt 24/Rw 09 Wajak, Malang.
Kultur                        : Jawa
Agama                       : Islam
Pendidikan Ortu        : SD
Tanggal Pengkajian   : 3 Juni 2004
No Register               : 0411669
Tanggal MRS            : 28 Mei 2004

B. ALASAN KUNJUNGAN/KELUHAN UTAMA
Skrotum klien sebelah kiri lebih besar dari pada sebelah kanan sejak lahir, dengan  bertambahnya usia. Skrotum sebelah kiri bertambah besar pula hingga pada usia 2tahun 10 bulan 9 hari. Pembesaran skrotum kiri 4 kali skrotum sebelah kanan (sebesar biji kluwak).

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
An. MH lahir pada tanggal 30 juli 2001 dan mempunyai kelainan pada genetalianya yaitu skrotum sebelah kiri lebih besar daripada sebelah kanan. Orang tua klien tidak mengetahui kalau kelainan tersebut dibiarkan terus-menerus akan membesar dan bahaya bagi klien. Orangtua klien baru menyadari sebulan  yang lalu ke dokter kalau kelainan pada anaknya bisa berbahaya  dan membutuhkan tindakan  operas. Orangtua klien membawa klien ke RSUD dr. Saiful Anwar  Malang pada  hari jum’at tanggal  28 Mei 2004 pada pukul  08.41WIB. setelah itu klien ditempatkan diruang 15 menunggu  operasi yang akan dilaksanakan pada hari senin  tanggal 7 Juni 2004.

D. RIWAYAT KEHAMILAN
1.       Prenatal : Pada  trisemester I, ibu klien mengalami mual muntah dan pusing. Selalu memeriksakan kandungannya pada puskesmas terdekat satu bulan sekali . selama hamil ibu mengkonsumsi  gizi yang cukup, minum jamu mulai bulan ke-3 sampai bulan ke-8 cabe puyang dan bulan ke-9 minum jamu gejah.
2.       Natal       : Ibu melahirkan dengan persalinan spontan, dibantu dengan  bidan di pukesmas terdekat. Bayi dilahirkan mempunyai BBL : 3000 gram dan TBL : 46 cm. Bayi yang dilahirkan mempunyai kelainan pada genetalianya yaitu skrotum sebelah kiri lebih besar daripada sebelah kanan , setelah semalam  dipuskesmas, ibu dan bayi dibawa pulang.
3.       Postnatal : setelah lahir, klien diberi ASI dan mendapat makanan tambahan. Pemberian susu dancow sejak berumur ±  13 bulan sampai dengan sekarang dan klien mendapat imunisasi sebanyak 9 kali.

E. RIWAYAT MASA LAMPAU
1.       Penyakit-penyakit waktu kecil
2.       Klien [pernah sakit panas, batuk, pilek dan hanya dibawa ke puskesmas dan posyandu oleh keluarga. Dan sembuh oleh dengan obat-obatan dari dokter puskesmas.
3.       Pernah dirawat di Rumah Sakit
4.       Klien sama sekali  belum pernah  dirawat dirumah sakit.
5.       Obat-obatan
6.       Ibu klien mengatakan saat klien sakit hany diberi paracetamol, obat batuk pilek (tidak tahu namanya) yang diberikan dari puskesmas.
7.       Tindakan (misalnya operasi)
8.       Klien sama sekali belum pernah dilakukan tindakan  operasi.
9.       Alergi
10.   Keluarga maupun klien tidak pernah mengalami alergi baik makanan maupun suhu udara.
11.   Kecelakaan
12.   Klien tidak pernah mengalami kecelakaan yang fatal.
13.   Imunisasi
14.   Klien sudah diimunisasi sebanyak 9 kali antara lain imunisasi BCG, DPT (2kali), Polio (3kali), Hepatitis (3kali), dan campak.

F. RIWAYAT KELUARGA
Orangtua klien mengtakan bahwa tidak ada anggota keluarga lain yang menderita kelainan seperti yang dialami oleh klien, tidak ada yang menderita penyakit keturunan dan penyakit menular.

G. RIWAYAT SOSIAL
1.       Yang mengasuh
2.       Klien diasuh oleh kedua orang tuanya.
3.       Hubungan dengan anggota keluarga
4.       Klien dapat berhubungan baik dengan anggota keluarga, akan tetapi klien masih kurang kurang lancar dalam berkomunikasi.
5.       Hubungan dengan teman sebaya
6.       Klien dapat berhubungan dengan baik dengan teman sebaya , hanya dalam berkomunikasi kurang lancar.
7.       Pembawaan secara umum
8.       Klien terlihat lincah, tidak pendiam, kalau ditanya bisa menjawab tetapi kurang jelas dan kadang terlihat acuh.
9.       Lingkungan rumah
10.   Keluarga klien mengatakn kalau rumahnya bersih, jauh dari keramaian.

G. KEBUTUHAN DASAR
1.       Cairan
SMRS     : air putih, susu, teh (± 3 gelas/± 300cc)
MRS       : air putih, susu, (± 2 gelas/± 200cc)
2.       Makanan
SMRS     : nasi, sayur, lauk, 3X/hari dan buah ± 1 mangkok
MRS       : nasi , sayur, lauk 3X/hari dan buah  nasi 2 sdm, sepotong daging/lauk, dan sdm sayur (tergantung diit RS) pada sore hari klien makan jeli 1 bungkus habis.            
3.       Pola Tidur
SMRS : malam ± 9-10 jam, siang ± 2-3 jam
MRS    : Malam ± 8-9 jam , siang ± 2-3 jam
4.       Mandi
SMRS     : 2X/hari
MRS       : 2X/hari
5.       Aktifitas /Bermain
SMRS     : kadang bermain sendiri, dengan teman sebaya dan dengan keluarga.
MRS       : klien kadang bermain sendiri, bermain denhgan teman sebaya, dengan ibum, perawat dan terlihat sering berlari-lari.
6.       Eliminasi
SMRS     : BAK ± 6X/hari ± 370 ml , BAB 1X/hari
MRS       : BAK ± 6X/hari ± 370 ml, BAB 1X/hari



H. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI
1.       Diagnosa Medis
Pre Operasi Hidrokel Testis Sinistra
2.       Tindakan Operasi
Operasi hidrokelektomi (direncanakan hari senin tanggal 7 Juni 2004)
3.       Status Nutrisi
BB: 10 Kg, lemak subkutan tipis, makan ± 2 sdm nasi, sepotong daging, 2 sdm sayur dan buah, limgkar lengan 15 cm.
4.       Status Cairan
Klien minum ± 2 gelas ± 200cc dengan dot, terkadang minum air putih, turgor kulit normal (kembali < 2detik)
5.       Obat-obatan
Sampai saat ini klien belum diberi obat
6.       Aktifitas
Klien terlihat bermain sendiri, bermain dengan teman sebaya, orang tua (ibu), perawat. Klien terlihat sering berlari-lari, klien dapat makian sendiri dengan tangan (dipuluk : jawa).
7.       Tindakan Keperawatan  -
8.       X-ray
Terdpat transluminasi  (+), cioran tembus cahaya.
9.       Lain-lain
Sebelum MRS klien hanya rawat jalan  (± 1 bulan)

H. PEMERIKSAAN FISIK
1.       Keadaan Umum  : Compos Metis
PDS (4,3,4)
Membuka mata spontan (4)
Respon verbal menggunakan vocal sounds (3)
Respon motor adanya lokalisasi nyeri (4)

2.       Tanda Vital
TD : 90/70mmHg                 RR : 26x/menit                        BB : 10 Kg
Nadi : 80X/menit                 Suhu : 36 o C                           TB : 78 Cm
3.       Pemeriksaan kepala leher
Bentuk kepala bulat, simetris, tidak ada benjolan, lingkar kepala 48 Cm, kulit kepala bersih, penyebaran rambut merata, rambjut lurus berwarna hitam, konjungtiva tidak anemis, mulut bersih, gigi bersih, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
4.       Pemeriksaan integumen
Kulit halus, bersih, berwarna sawo matang, lemak subkutan tipis, turgor kulit normal (kembali < 2 detik).
5.       Dada dan thorak
Bentuk dada normal  chest, tidak ada whezing,  tidak ada ronchi, tidak terdapat retraksi interkostal.
Tidak ada pembesaran jantung, murmur tidak ada, BJ I, BJ II, jelas dan BJ III dan BJ IV tidak ada.
6.       Payudara -
7.       Abdomen
Perut buncit, tidak terdapat acites, tidak terdapat hematomegali, dan splenomegali, perkusi timpani, bising usus 8x/menit
8.      Genetalia
Pada skrotum sebelah kiri tampak 4 kali lebih besar dari skrotum kanan (sebesar biji kluwak), belum disrkumsisi, kelainan ini sudah ada sejak lahir, tidak ada peradangan  kulit bersih, tidak nyeri, konsisitensi / palpasi hidrokel kenyal. Benjolan  tampak naik ketika klien menangis.
9.      

Kekuatan otot                       
 
Ektremitas
Reflek patologi tidak ada                                                    5    5
Reflek fisiologis ada                                                            5     5


I. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN
1.      Motor kasar
Tidak terdapat kegagalan / normal
2.      Motor halus
Tidak terdapat kegagalan / normal
3.      Adaptasi sosial
Tidak terdapat kegagalan / normal
4.      Bahasa
Secara umum normal

J. INFORMASI LAIN
Keluarga klien baru menyadari ± sebulan yang lalu bahwa klien mempunyai kelainan pada daerah genetalianya dan harus dioperasi . keluarga klien cemas dan menanyakan kapan opreasi dilakukan dan masih menunggu operasi.
















G. ANALISA DATA

Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

No.
DATA PENUNJANG
MASALAH
KEMUNGKINAN PENYEBAB
1.
DS :
Ibu mengatakan bahwa ia merasa cemas dengan operasi yang akan dijalani anaknya, dan ia sering bertanya kepada dokter kapan operasi anaknya dapat dilaksanakan
DO :
Klien tampak gelisah
Skala ansietas 4-6
Ansietas sedang
Kurang pengetahuan tentang perawatan Pre-Ops
2.
DS :
Ibu klien mengatakan bahwa ia tahu bahwa bagian alat kelamin anaknya besar sebelah sejak lahir dan makin membesar sampai sekarang
Ibu klien menganggap bahwa penyebab bagian alat kelamin anaknya yang membesar adalah cairan urin
DO :
Skrotum kiri klien tampak lebih besar (4 X) dari bagian kanan, bentuk seperti buah kluwak, diameter + 6 cm











Kurang  pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan tindakan terapi
Inadekuatnya informasi mengenai kondisi, prognosis, dan tindakan terapi oleh petugas kesehatan
3.
DS :
Ibu klien mengatakan bahwa anaknya sangat banyak bergerak dan tak mau diam meskipun berada di RS
DO :
Klien sangat senang bermain (berlari dan melompat-lompat) dan sangat lincah
Keadaan hidrokel skrotum kiri lebih besar 4X dari yang kanan, kulit skrotum tampak tipis dan mengkilat
Potensial terjadi cedera
Sikap Hiperaktif Pre-Ops











H. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

1. Ansietas sedang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan Pre-ops
2. Kurang  pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan tindakan terapi berhubungan dengan Inadekuatnya informasi mengenai kondisi, prognosis, dan tindakan terapi oleh petugas kesehatan
3. Potensial terjadi cedera berhubungan dengan Sikap Hiperaktif Pre-Ops


















I. DAFTAR MASALAH

Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

No.
Dx.
TANGGAL MUNCUL
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGGAL TERATASI
1.
3 Juni 2004
Ansietas sedang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan Pre-ops

2.
3 Juni 2004
Kurang  pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan tindakan terapi berhubungan dengan Inadekuatnya informasi mengenai kondisi, prognosis, dan tindakan terapi oleh petugas kesehatan

3.
3 Juni 2004
Potensial terjadi cedera berhubungan dengan Sikap Hiperaktif Pre-Ops
















J. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

TANGGAL
No.
Dx.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
KRETERIA STANDART
INTERVENSI
RASIONAL
3 Juni 2004
1.
Ansietas sedang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan Pre-ops
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan tingkat kecemasan klien berkurang
Kreteria Standart :
Ibu klien mengatakan tingkat kecemasan menurun setelah dilakukan penyuluhan


1. Bina hubungan saling percaya


2. Evaluasi tingkat kecemasan dan catat respon verbal/Nonverbal orang tua klien
3. Motivasi klien agar bersedia mengungkapkan rasa gelisahnya

4. Berikan informasi mengenai penyakit dan perawatan pre-ops
1. Rasa percaya klien pada perawat membantu kelancaran proses keperawatan
2. Kecemasan terjadi karena kurang pengetahuan tentang perawatan Pre-ops

3. Ungkapan verbal secara tidak langsung mengurangi tingkat kecemasan klien
4. Informasi yang adekuat membantu menurunkan tingkat kecemasan
3 Juni 2004
2.
Kurang  pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan tindakan terapi berhubungan dengan Inadekuatnya informasi mengenai kondisi, prognosis, dan tindakan terapi oleh petugas kesehatan
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan orang tua klien mengetahui tentang kondisi penyakit yang diderita oleh klien, prognosis, dan tindakan terapi .
Kreteria Standart :
Orang tua Klien mampu menyebutkan kondisi penyakit yang diderita oleh klien, prognosis, dan tindakan terapi
1. Kaji tingkat pemahaman orang tua klien terhadap kondisi, prognosis, dan tindakan terapi
2. Tinjau ulang patologis khusus dan antisipasi prosedur pembedahan
3. Gunakan sumber-sumber bahan pengkajian
4. Melaksanakan program pengajaran pre-operasi (pembatasan urinarius dan usus, diet, dan perubahan aktivitas)
5. Informasikan pada orang tua klien tentang rencan operasi
1. Berikan fasilitas perencanaan program pengajaran pasca operasi
2. Sediakan pengetahuan beradasarkan hal dimana orangtua klien dapat menentukan pilihan terapi dan berdasarkan informasi dan setuju mengikuti prosedur
3. Membantu klien dalam belajar
4. Peningkatan pemahaman orang tua klien memungkinkan kelancaran perawatan mandiri oleh klien dan keluarga
5. Orang tua klien mendapatkan informasi logistik mengenai jadwal operasi 
3 Juni 2004
3.
Potensial terjadi cedera berhubungan dengan Sikap Hiperaktif Pre-Ops
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan orang tua klien mampu untuk mengkondisikan klien agar cedera tidak dapat terjadi
Kreteria Standart :
Orang tua klien mampu untuk memberikan alternatif permainan yang dapat mengurangi aktivitas motoriknya
1. Observasi tingkat aktivitas motorik klien

2. Motivasi orang tua untuk memberikan permainan yang dapat meminimalkan  aktivitas motoriknya (menyusun kubus, menggambar)
3. Bantu orang tua klien dalam menyediakan permainan alternatif bagi klien

4.  Berikan variasi permainan ketika klien terlihat jenuh dengan permainan yang ada.
1. Tingkat aktivitas motorik klien menentukan derajat hiperaktif klien
2.  Peran orang tua sangt penting dalam proses bermain anak



3. Contoh dari perawat mempermudah orang tua untuk mengarahkan permainan klien
4. Variasi permainan mencegah kebosanan dan mestimuli daya kreasi klien.



K. CATATAN KEPERAWATAN

Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

No.
Tanggal
No. Dx.
IMPLEMTASI
TTD
1.
3 Juni 2004
1.





2.

3.
1. Membina hubungan saling percaya antara perawat, klien dan keluarganya
2. Mengevaluasi tingkat kecemasan orang tua klien
3. Mengobservasi respon verbal dan non verbal klien
4. Memotivasi orang tua mengungkapkan kegelisahan.

Mengkaji tingkat pemahaman orang tua klien.

1. Mengobservasi tingkat aktivitas motorik klien
2. Memberikan anjuran pada orang tua untuk memberikan alat permainan pada klien.

2.
4 Juni 2004
1.




2.



3.
1. Mengevaluasi tingkat kecemasan orang tua klien
2.  Mengobservasi respon verbal dan non verbal klien
3. Menginformasikan pada keluarga klien tentang penyakit klien.

1.  Mengkaji ulang tingkat pemahaman orang tua klien
2.  Meluruskan kembali pemahaman tentang penyakit klien.

1. Menyediakan lingkungan yang menyenangkan bagi klien untuk bermian
2. Memberikan contoh permainan pada orangtua klien.

3.
5 Juni 2004
1.




2.




3.
1. Mengevaluasi tingkat kecemasan orang tua klien
2.  Mengobservasi respon verbal dan non verbal klien
3. Menjelaskan tentang penatalaksanaan dan perawatan klien.

1. Mengkaji pemahaman orang tua klien tentang informasi yang telah diberikan
2. menjawab pertanyaan orangtua klien tentang perawatan pra oprasi.

1. Melakukan terapi bermain pada anak dengan menggunakan media buku gambar dan kubus mainan
2. Menganjurkan pada orang tua klien untuk tetap mempertahankan kondisi klien yaitu meminimalkan gerak motoriknya.




L. EVALUASI

Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

1. Formatif
No. Dx.
3 Juni 2004
4 Juni 2004
5 Juni 2004
1.
S  : Orang tua klien mengatakan bahwa ia tak sabar untuk menunggu jadwal operasi


O  : Klien tampak gelisah, skala ansietas 4-6
A  : Masalah belum teratasi
P  : Lanjutkan intervensi
S  : Ibu klien mengatakan akan tetap berusaha untuk mengusahakan agar anak sembuh dan pasrah terhadap apapun hasil operasi

O : -
A : Masalah teratasi sebagian 
P : Lanjutkan intervensi
S : Ibu klien mengatakan khawatir terhadap aktivitas anaknya yang hiperaktif  dapat mempengaruhi penyakit anaknya
O : -
A : Masalah teratasi sebagian 
P : Lanjutkan intervensi
2.
S  : Ibu klien mengatakan bahwa penyakit anaknya ada sejak lahir dan semakin membesar, belaiu tak mengetahui sebabnya


O : -
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
S  : Ibu klien mengatakan bahwa beliau mengetahui penyakit anaknya yaitu terdapat cairan urin dan lemak pada skrotum yang membesar


O : -
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
S : Ibu klien mengatakan ia mengetahui penyakit anaknya, tetapi ia tidak mengetahui prognosa selanjutnya dan tindakan apa yang akan dilakukan kepada anaknya
O : -
A : Masalah teratasi sebagian 
P : Lanjutkan intervensi
3.
S  : Ibu klien mengatakan bahwa anak sangat aktif, berlari-lari dan melompat- lompat



O : Klien tampak tidak bisa diam, berlari-larian dan melompat-lompat




A   : Masalah teratasi sebagian 
P   : Lanjutkan intervensi
S : Ibu klien mengatakan bahwa ia kesulitan menentukan permainan yang tepat bagi anaknya dan kemudian memberikan kertas dan alat tulis pada anaknya  

O : Klien tampak hanya mencorat-coret kertas dengan alat gambar




A   : Masalah teratasi sebagian 
P   : Lanjutkan intervensi
S : Ibu klien mengatakan bahwa ia kurang sabar untuk menemani klien untuk bermain di atas tempat tidur, ia lebih menyukai menggendong anaknya
O: Klien tampak tidak suka digendong, ia lebih suka bermain
Klien tampak suka ketika dijak bermain permainan yang baru yaitu menyusun kubus dan rumah-rumahan
A   : Masalah teratasi sebagian 
P   : Lanjutkan intervensi







2. Sumatif
Nama Pasien : An. Hr.
Usia               : 2 Tahun 10 Bulan 9 Hari
No. Register  : 0411669

Klien MRS pada tanggal 28 Mei 2004, dan pengkajian dilakukan pada tanggal 3 Juni 2004 dengan diagnosa yang muncul terdiri dari :
a. Dua buah diagnosa aktual yang terdiri dari :
 1.) Ansietas sedang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan Pre-ops
2.) Kurang  pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan tindakan terapi berhubungan dengan Inadekuatnya informasi mengenai kondisi, prognosis, dan tindakan terapi oleh petugas kesehatan
b. Sebuah diagnosa potensial yaitu :
Potensial terjadi cedera berhubungan dengan Sikap Hiperaktif Pre-Ops
Dengan analisa data pada diagnosa aktual masalah belum teratasi dan pada diagnosa potensial masalah telah teratasi sebagian.
Pada hari kedua pengkajian, diagnosa yang muncul tetap dan tidak ada perubahan. Analisa data didapatkan diagnosa aktual pertama dan diagnosa potensial adalah masalah yang ada hanya teratasi sebagian. Untuk analisa data pada diagnosa aktual kedua, didapatkan masalah masih belum teratasi.
Pada hari ketiga pengkajian, diagnosa yang ada tidak berubah dan tidak muncul diagnosa baru. Analisa data akhir untuk semua jenis diagnosa adalah masalah telah teratasi sebagian. Tindakan perawatan selanjutnya diserahkan kepada perawat ruangan.  







BAB IV
PEMBAHASAN

            Asuhan keperawatan pada An. H dengan pre operasi hidrokel testis yang telah dilaksanakan pada tanggal 3 – 5 Juni 2004, dalam kenyataannya ditemukan beberapa kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus. Adapun kesenjangan tersebut antara lain:

A.   PENGKAJIAN
Pada tinjauan teori, pengkajian klien dengan hidrokel ditekankan pada pengkajian genetalia. Pada tinjauan kasus, pengkajian genetalia klien dengan hidrokel testis ditemui beberapa tanda yang sesuai dengan teori misalnya adanya pembesaran skrotum, transiluminasi positif, konsistensi hidrokel kenyal atau lunak. Adanya nyeri tekan pada tinjauan teori tetapi pada tinjauan kasus klien tidak merasakan nyeri tekan. Sedangkan pada pengkajian psikososial , tinjauan kasus menjelaskan adanya tambahan pengkajian psikososial keluarga karena klien masih berumur di bawah lima tahun dan masih berada pada perlindungan keluarga.

B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dari beberapa diagnosa yang terdapat pada tinjauan teori, tidak semuanya muncul pada An. H Hal ini disebabkan karena pada saat pengkajian An. Hr. tidak menunjukkan respon yang dapat memunculkan diagnosa seperti pada tinjauan teori.
Berikut adalah diagnosa pada tinjauan teori yang tidak muncul pada tinjauan kasus yaitu :
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan perangsangan syaraf atau reseptor nyeri dampak dari proses desak ruang oleh hidrokel .
Diagnosa ini tidak diangkat karena pada saat pengkajian, klien An. H tidak menunjukkan respon nyeri saat beraktivitas maupun saat berkemih yang diucapkan secara verbal oleh klien, dilihat dari raut wajah ketika berkemih dan data sekunder dari keluarga ( ibu ) klien yang mengatakan bahwa An. H tidak mengeluh apa-apa tentang kondisinya terutama ketika berkemih.
2.      Gangguan konsep diri citra tubuh berhubungan dengan pembesaran skrotum
Diagnosa ini tidak diangkat karena An. H sebagai klien tidak terganggu untuk beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar karena kondisinya tersebut. Ia sangat lincah dan sering mengajak bermain perawat yang ada. Data sekunder menunjukkan bahwa ibunya mengatakan beliau membawa An. H untuk berobat sebagai langkah antisipasi jika nantinya An. H sudah besar maka ia tidak akan minder karena memiliki kelainan.
3.      Potensial terjadi infeksi berhubungan dengan akumulasi hidrokel sebagai media perkembangan kuman atau bakteri.
Diagnosa ini tidak diangkat karena pada saat pengkajian tidak ditemukan beberapa tanda dan gejala yang mengarah pada suatu keadaan infeksi seperti : kenaikan suhu tubuh, kenaikan tekanan darah, nadi, respirasi maupun respon kejang.
4.       Resiko terjadi perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan disfungsi organ yang mengalami penekanan oleh hidrokel.
Diagnosa ini tidak muncul saat pengkajian karena tidak didapatkan data-data yang menunjang terjadinya hambatan dalam proses berkemih seperti rasa nyeri, konsistensi urine abnormal, jumlah urine dan pancaran aliran urine.
5.      Resiko terjadinya gangguan reproduksi berhubungan dengan disfungsi organ genetalia.
Diagnosa ini tidak diangkat karena pada saat ini An. H masih berusia di bawah lima tahun yang dimana fase kepuasaan seksual tidak diperoleh dari organ genetalia.

Sedangkan beberapa diagnosa yang muncul pada An. H adalah sebagai berikut:
1.        Ansietas sedang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang perawatan pre operasi.
Diagnosa ini muncul karena respon keluarga terhadap proses perawatan. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa respon verbal keluarga klien yang menunjukkan maksud bahwa keluarga khawatir akan proses terapi atau operasi pada anaknya.
2.        Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang adequatnya informasi dari petugas kesehatan.
Diagnosa ini muncul karena reson keluarga terhadap An. H ketika diberikan Health Education oleh perawat keluarga tampak sudah mengerti walaupun hanya sedikit dan beberapa di dalamnya masih terdapat salah pengertian mengenai patologis penyakit klien.
3.        Potensial terjadi cidera berhubungan dengan sikap hiperaktif pre operasi.
Diagnosa ini muncul karena saat ini kondisi klien terutama skrotum yang berhidrokel menunjukkan ciri kulit tipis, mengkilat dan lebih besar dari skrotum yang normal. Selain itu, klien juga sangat gemar bermain dan beraktivitas, misal dengan berlari-larian dan melompat-lompat.

C.   INTERVENSI
Perencanaan pada kasus nyata pada dasarnya mengacu pada tinjauan keperawatan, namun pada beberapa diagnosa mengalami perubahan dan pengurangan intervensi karena disesuaikan dengan kondisi dan respon yang muncul pada klien.

D.   IMPLEMENTASI
Semua tindakan yang direncanakan sudah dapat  dilaksanakan, akan tetapi tindakan lanjutan yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang belum teratasi maupun yang teratasi sebagian belum dapat dilakukan karena keterbatasan waktu.
E.   EVALUASI
Pada tahap evaluasi didapatkan keberhasilan asuhan keperawatan yang mengacu pada kriteria standart. Pada kasus nyata, hasil yang diharapkan ada yang sesuai dengan evaluasi pada tinjauan teori dan ada beberapa tambahan yang disesuaikan dengan kriteria standart pada intervensi. Sementara itu untuk hasil terapi belum dapat di evaluasi karena klien belum menjalani operasi.




BAB V
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Setelah dilakukan studi kasus pada klien An. H dengan hidrokel testis di ruang 15 RSSA Malang, pada tanggal 3-5 Juni 2004 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.    Hidrokel yaitu terkumpulnya cairan diantara lapisan visceral dan parietal tunika vaginalis.
2.    Pengkajian fisik pada klien dengan hidrokel testis difokuskan pada organ yang mengalami kelainan yaitu pada daerah genetalia.
3.    Diagnosa keperawatan yang muncul ditentukan dari kondisi klien saat pengkajian.
4.    Pada rencana tindakan tidak semuanya dapat diimplementasikan karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi klien.
5.    Evaluasi secara umum terhadap klien dilakukan setelah tindakan keperawatan.

  1. SARAN
Dari penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, penulis dapat menyarankan:
1.    Perawat hendaknya melibatkan keluarga dalam melakukan asuhan keperawatan .
2.    Pendidikan kesehatan pada keluarga klien sangat dianjurkan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

3.    Dalam melaksanakan tindakan keperawatan agar dapat dilakukan dengan baik, selain disesuaikan dengan situasi dan kondisi, diperlukan juga kerjasama dengan tim kesehatan yang lain.

Sample Text

Popular Posts

Recent Posts

SEMOGA BERMANFAAT BUAT PEMBACA

Text Widget